Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menlu AS Ultimatum Iran: Selat Hormuz Bukan Milik Teheran, Tak Boleh Ada Tarif Kapal

        Menlu AS Ultimatum Iran: Selat Hormuz Bukan Milik Teheran, Tak Boleh Ada Tarif Kapal Kredit Foto: Google Earth
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Di tengah upaya menjaga perdamaian pascakonflik dengan Iran, Amerika Serikat justru mengeluarkan peringatan keras terkait masa depan Selat Hormuz yang menjadi jalur energi paling vital di dunia.

        Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan Iran tidak memiliki hak untuk mengenakan tarif atau pungutan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz meskipun jalur tersebut berada dekat dengan wilayahnya.

        Menurut Rubio, praktik semacam itu akan menciptakan preseden berbahaya yang dapat ditiru negara-negara lain di berbagai belahan dunia.

        "Jalur air internasional bukan milik negara mana pun. Ini adalah prinsip dasar di dunia saat ini, tanpa itu, dunia akan berada dalam kekacauan total," kata Rubio dalam pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk di Bahrain.

        Rubio memperingatkan bahwa jika dunia membiarkan Iran memungut biaya atas penggunaan Selat Hormuz, maka aturan serupa bisa muncul di berbagai jalur pelayaran internasional lainnya.

        "Jika kita menerima bahwa Anda dapat memungut biaya untuk menggunakan jalur air internasional karena kebetulan berada di dekat wilayah teritorial Anda, maka ini akan menyebar ke seluruh dunia seperti penyakit menular," tegasnya.

        Pernyataan itu muncul saat ketidakpastian masih menyelimuti kebijakan Iran terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz meskipun kesepakatan damai antara Washington dan Teheran telah ditandatangani pekan lalu.

        Selama perang berlangsung, Iran sempat menutup Selat Hormuz sehingga mengganggu arus perdagangan global dan memicu lonjakan harga minyak serta gas di pasar internasional.

        Posisi selat tersebut memang sangat strategis karena menjadi jalur utama pengiriman energi dari negara-negara Teluk ke berbagai negara di dunia.

        Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global melewati Selat Hormuz sehingga setiap gangguan kecil saja dapat langsung mengguncang pasar energi internasional.

        Meski Amerika Serikat menyatakan tetap menginginkan hubungan yang lebih stabil dengan Iran, Rubio menegaskan Washington tidak akan menerima kesepakatan yang berpotensi mengancam keamanan kawasan maupun kebebasan pelayaran internasional.

        "Meskipun kami menginginkan kesepakatan, kami tidak menginginkan kesepakatan dengan berapa pun harganya," ujar Rubio.

        Baca Juga: Iran Murka, Tuding NATO Ikut Perang Setelah Bos Aliansi Bongkar Dukungan untuk AS

        "Kami menginginkan kesepakatan yang baik, kami menginginkan kesepakatan yang nyata, kami menginginkan kesepakatan yang dapat diverifikasi, dan kami menginginkan kesepakatan yang dipatuhi," lanjutnya.

        Rubio juga memastikan kepentingan negara-negara Teluk akan menjadi perhatian utama dalam setiap pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran.

        Peringatan keras dari Washington tersebut menunjukkan bahwa meskipun perang telah berakhir, Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan AS-Iran dan berpotensi kembali memicu ketegangan apabila Teheran mengambil kebijakan yang dianggap mengganggu pelayaran internasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: