Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Koleksi Hijab Uniqlo Terbaru Picu Kontroversi, Netizen Soroti Model Iklan

Koleksi Hijab Uniqlo Terbaru Picu Kontroversi, Netizen Soroti Model Iklan Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peluncuran lini hijab terbaru dari Uniqlo di Malaysia memicu perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet menilai gaya pemakaian yang ditampilkan dalam materi promosi tidak sesuai dengan konsep hijab karena memperlihatkan bagian leher dan dada atas.

Uniqlo Malaysia dijadwalkan meluncurkan koleksi hijab mandiri pada Senin mendatang sebagai upaya memperluas pasar modest wear di Malaysia, salah satu pasar busana muslim terbesar di Asia Tenggara. Namun, teaser kampanye yang diunggah perusahaan menuai kritik dari sebagian pengguna media sosial.

Dalam materi promosi tersebut, kain dikenakan dengan gaya menyerupai turban sehingga tidak sepenuhnya menutupi bagian leher. Sejumlah netizen mempertanyakan penggunaan istilah "hijab" untuk produk tersebut.

"Ini bukan hijab," tulis salah satu pengguna media sosial. Pengguna lainnya menilai produk itu terlalu pendek untuk menutup aurat dan menyarankan agar Uniqlo menggunakan istilah lain, seperti "Airism headscarf", alih-alih hijab, demikian laporan SCMP.

Beberapa pengguna bahkan menandai Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) dan meminta perusahaan berhenti menggunakan kata "hijab" dalam materi iklan.

Uniqlo menawarkan tiga desain hijab berukuran one-size yang menggunakan bahan Airism dengan perlindungan ultraviolet, georgette, dan satin. Produk tersebut dibanderol seharga 59,90 ringgit Malaysia atau sekitar 15 dolar AS.

Perusahaan menjelaskan bahwa koleksi tersebut dikembangkan khusus untuk iklim tropis Malaysia, dengan fokus pada kenyamanan, sirkulasi udara, dan fleksibilitas gaya. Produk akan dipasarkan melalui gerai fisik Uniqlo Malaysia maupun platform daring.

Meski menuai kritik, sebagian pengguna media sosial menilai persoalan tersebut lebih terkait dengan cara produk dipromosikan, bukan produknya sendiri. Menurut mereka, kain tersebut tetap dapat digunakan sesuai kebutuhan masing-masing pengguna.

Di sisi lain, sejumlah perempuan menolak apa yang mereka anggap sebagai moral policing. Mereka mempertanyakan mengapa banyak kritik justru datang dari pengguna laki-laki, sementara isu-isu lain yang menyangkut hak perempuan kerap luput dari perhatian.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: