Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Risiko Global Mereda, Mirae Asset Ungkap Ancaman Pasar Kini Datang dari Dalam Negeri

        Risiko Global Mereda, Mirae Asset Ungkap Ancaman Pasar Kini Datang dari Dalam Negeri Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global. Meski demikian, investor dinilai masih perlu mewaspadai berbagai risiko, terutama potensi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan tantangan domestik Indonesia yang diperkirakan masih memengaruhi pergerakan pasar.

        Pandangan tersebut disampaikan Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam Media Day bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed? yang membahas prospek pasar, peluang investasi sektoral, dan strategi diversifikasi portofolio.

        Rully mengatakan, meredanya risiko geopolitik belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap pasar karena ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) masih membayangi. Saat ini, Federal Funds Rate (FFR) berada di level 3,75% dan diperkirakan masih berpotensi naik masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember hingga mencapai 4,25% pada akhir 2026.

        “Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi,” ujar Rully, di Jakarta, Selasa (30/6/2026). 

        Di sisi makroekonomi, Mirae Asset Sekuritas mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 direvisi menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di level 5,0%, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%.

        Selain faktor global, Rully menilai investor juga masih mencermati sejumlah tantangan dari dalam negeri. Beberapa di antaranya meliputi stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal pemerintah, hingga meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.

        “Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya,” tambah Rully.

        Dari sisi sektoral, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih menilai industri unggas (poultry) menjadi salah satu sektor yang berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik.

        Menurut Andreas, konsumsi daging ayam di Indonesia masih sekitar 8,6 kilogram per kapita, lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 32,9 kilogram dan Vietnam sebesar 16,7 kilogram. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan ruang pertumbuhan permintaan yang masih besar.

        Ia menambahkan, prospek industri juga didukung oleh peningkatan konsumsi, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pasokan yang diperkirakan lebih terkendali seiring penurunan kuota impor grand parent stock (GPS) dan implementasi program culling.

        “Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor,” kata Andreas.

        Baca Juga: IHSG Dibuka Anjlok 1%, Sebanyak 208 Saham Melemah

        Baca Juga: IHSG Anjlok 4,55%, Asing Kabur Rp3,43 Triliun! Ini Saham Paling Cuan dan Boncos

        Sementara itu, Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan mengatakan strategi diversifikasi tetap menjadi pendekatan yang relevan di tengah volatilitas pasar. Menurutnya, investor perlu menyesuaikan komposisi portofolio dengan tujuan investasi, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas.

        “Diversifikasi membantu investor mengelola risiko sekaligus tetap menangkap peluang investasi di berbagai kondisi pasar. Dengan memilih kombinasi instrumen yang tepat sesuai profil risiko, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang,” ujar Francisca.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: