Indonesia Dituding Takut Amerika usai Tak Kirim Delegasi Resmi ke Pemakaman Khamenei di Iran
Kredit Foto: Istimewa
Indonesia disebut-sebut sudah takut dengan pengaruh dari Amerika Serikat (AS). Hal ini menyusul keputusan pemerintah yang tak mengirim delegasi resmi ke rangkaian pemakaman dari Mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal mempertanyakan keputusan tersebut dan menilai absennya delegasi resmi memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip diplomasi dari Indonesia.
Baca Juga: Di Hari Kemerdekaan, Trump Pamer Amerika Sudah Hancurkan Venezuela hingga Iran
Menurut Dino, Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan, Rolliansyah Soemirat menjadi satu-satunya wakil pemerintah dalam prosesi penghormatan terakhir di Grand Mosalla, Teheran. Padahal, berbagai negara lain mengirimkan utusan resmi, mulai dari tingkat menteri hingga kepala negara.
Ia bahkan menduga bahwa pemerintah kita tidak begitu fleksibel dalam menjalankan politik bebas aktifnya. Indonesia dengan tak mengirim delegasi kali ini bisa dilihat sebagai tanda bahwa pemerintah takut terhadap Amerika Serikat (AS).
Negeri Paman Sam diketahui tengah berkonflik dengan Iran. Washington juga baru-baru ini dikenal sangat dekat dengan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
"Apakah ini berarti polugri bebas aktif kita mulai luntur karena pemerintah takut atau sungkan terhadap Amerika? Has fear become a factor in our foreign policy?" ungkap Dino, dikutip Senin (6/7).
Iran sendiri disebut-sebut telah berupaya mengundang pemerintah untuk mengirimkan delegasi resmi. Namun Dino mengklaim undangan tersebut tidak mendapatkan tanggapan.
Dino mengatakan kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa pemerintah menghindari momentum diplomatik yang sensitif di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ia mempertanyakan apakah sikap tersebut mencerminkan kehati-hatian berlebihan terhadap Washington.
Meski demikian, ia juga membuka kemungkinan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata faktor politik luar negeri, melainkan akibat lemahnya tata kelola pengambilan keputusan di lingkungan pemerintah.
"Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah, sebagaimana biasanya surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yang berani mengambil keputusan," ujarnya.
Menurut Dino, apabila pemerintah tidak ingin mengirim pejabat setingkat menteri, setidaknya pemerintah dapat mengutus Wakil Menteri Luar Negeri bidang Dunia Islam, Anis Matta.
Ia mengingatkan bahwa politik luar negeri bebas aktif bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan melalui keberanian mengambil sikap dalam situasi internasional yang sensitif.
"Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Bebas aktif adalah diplomasi berprinsip, bukan diplomasi sungkan," tegasnya.
Diketahui, Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, 28 Februari 2026. Rangkaian pemakaman sosok tersebut berlangsung pada 3-9 Juli 2026 di Iran.
Jenazah Ali Khamenei sendiri masih disemayamkan di Grand Mosalla. Ia nantinya akan dibawa berkeliling ke sejumlah kota besar dan pusat-pusat suci umat Syiah. Jenazah Ali Khamenei pada akhirnya akan dimakamkan di Mashhad.
Baca Juga: Masuk 'Perangkap' Jaksa, Dokter Tifa Bakal Dibuat Kesulitan Melawan di Kasus Ijazah Jokowi
Media Iran menayangkan ribuan warga yang mengenakan pakaian hitam memenuhi area dari Grand Mosalla. Banyak di antara mereka terlihat menangis, memukul dada sebagai tradisi berkabung dalam Islam Syiah. Mereka juga turut mengibarkan bendera merah yang melambangkan tuntutan keadilan dan pembalasan atas kematian dari Ali Khamenei.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: