Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PBB Laporkan Generasi Muda Tak Berani Menikah karena Cemas dengan Kondisi Ekonomi

        PBB Laporkan Generasi Muda Tak Berani Menikah karena Cemas dengan Kondisi Ekonomi Kredit Foto: Reuters/Eduardo Munoz
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Anggapan bahwa generasi muda enggan menikah dan memiliki anak ternyata tidak sejalan dengan temuan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

        Laporan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) menunjukkan mayoritas kaum muda di berbagai negara masih menginginkan kehidupan berkeluarga, dengan syarat memiliki kondisi ekonomi yang memadai.

        Berdasarkan laporan UNFPA melalui Demographic Futures Survey 2025–2026, lebih dari dua pertiga responden berusia 18 hingga 39 tahun memilih pernikahan sebagai bentuk hubungan dan pengaturan hidup yang ideal.

        Survei tersebut melibatkan lebih dari 108.000 pengguna internet berusia 18–39 tahun di 73 negara dan wilayah.

        Dalam laporan berjudul Lives, Choices and Futures: What Young People Want and What Shapes Their Decisions About Relationships and Parenthood, keluarga dengan dua anak menjadi pilihan ideal yang paling banyak diinginkan oleh responden di sebagian besar wilayah dunia.

        Keinginan memiliki anak lebih banyak umumnya ditemukan di kawasan Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Afrika Selatan.

        Sebelum memutuskan menjadi orang tua, mayoritas responden menilai tiga faktor berikut sebagai syarat utama:

        1. Kemapanan finansial menjadi prioritas bagi 88 persen responden.
        2. Pekerjaan yang stabil dinilai penting oleh 87 persen responden.
        3. Kesiapan emosional dianggap penting oleh 85 persen responden.

        Laporan tersebut juga mencatat bahwa responden perempuan cenderung menilai ketiga syarat tersebut lebih penting dibandingkan responden laki-laki.

        Kebahagiaan Jadi Alasan Utama Memiliki Anak

        Survei UNFPA menunjukkan sebanyak 80 persen responden menyebut kebahagiaan yang dihadirkan anak sebagai alasan utama ingin memiliki keturunan. Temuan ini konsisten baik pada responden yang sudah memiliki anak maupun yang belum.

        Sebaliknya, alasan seperti memenuhi imbauan pemerintah atau berkontribusi terhadap penyediaan tenaga kerja di masa depan berada di urutan paling rendah.

        Di sisi lain, kendala ekonomi dan sulitnya memperoleh tempat tinggal menjadi hambatan terbesar untuk membangun keluarga, yang diakui oleh 72 persen responden. Hambatan lain yang banyak disebut adalah belum menemukan pasangan yang sesuai, serta persoalan kesehatan dan reproduksi.

        Masalah Utamanya Ketidakpastian Ekonomi

        Direktur Eksekutif UNFPA, Diene Keita, mengatakan hasil survei tersebut membantah anggapan bahwa generasi muda menolak pernikahan atau kehidupan berkeluarga.

        "Beberapa pihak menilai bahwa generasi muda menolak pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Namun, data kami menunjukkan bahwa anggapan tersebut sama sekali tidak benar," kata Diene Keita saat merilis laporan itu, Rabu (8/7/2026).

        Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi generasi muda adalah ketidakpastian ekonomi dan kondisi sosial, bukan keengganan untuk berkomitmen.

        UNFPA menilai kaum muda membutuhkan lapangan kerja yang layak, hunian yang terjangkau, layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang memadai, dukungan perawatan anak, kebijakan cuti orang tua, serta kesetaraan gender di lingkungan kerja maupun keluarga.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: