United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyatakan bahwa upaya transisi energi global mendapatkan berkah tersendiri dari perang yang dilakukan oleh Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change, Simon Stiell, mengatakan konflik tersebut secara tidak langsung mendorong percepatan transisi energi bersih. Menurutnya, kini negara-negara dunia berupaya mengurangi ketergantungan pada pasar minyak dan gas yang bergejolak.
Baca Juga: ADB Siap Tawarkan Bantuan ke Negara Terdampak Krisis Energi di Pasifik
“Pihak-pihak yang berusaha mempertahankan dunia tetap bergantung pada bahan bakar fosil justru tanpa sengaja mempercepat lonjakan energi terbarukan global,” ujarnya.
Konflik yang telah berlangsung sekitar dua bulan itu mengganggu pasokan minyak dan gas global, memaksa sejumlah negara membatasi konsumsi bahan bakar serta menggelontorkan subsidi dan pemangkasan pajak untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.
Di tengah tekanan tersebut, permintaan energi bersih menunjukkan peningkatan. Permintaan panel surya atap misalnya telah dilaporkan melonjak, berbarengan dengan peningkatan penjualan kendaraan listrik.
Stiell menambahkan bahwa energi terbarukan menawarkan solusi yang lebih aman dan stabil dibandingkan bahan bakar fosil.
“Energi terbarukan memberikan energi yang lebih aman, lebih murah, dan lebih bersih yang tidak bisa disandera oleh jalur pelayaran sempit atau konflik global,” katanya.
Namun, di sisi lain, beberapa negara masih meningkatkan penggunaan batubara dan bahan bakar minyak berat untuk menggantikan pasokan gas yang terganggu dari Timur Tengah.
Sebelumnya, Kolombia, Belanda, Brasil, Jerman, Kanada hingga Nigeria juga telah bertemu untuk membahas langkah penghapusan bahan bakar fosil. Kolombia dan Belanda dalam hal ini menyatakan bahwa pembahasan akan terus dilanjutkan dalam satu tahun ke depan guna merumuskan implementasi dalam sistem perdagangan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya memicu ketidakstabilan energi, tetapi juga mempercepat perubahan struktural menuju ekonomi rendah karbon di tingkat global.
Baca Juga: ADB Gelontorkan US$70 Miliar untuk Infrastruktur Energi & Digital Asia-Pasifik
Adapun Presiden China, Xi Jinping, juga menyerukan percepatan pembangunan sistem energi baru guna menjaga ketahanan energi. Ia menekankan pentingnya pengembangan tenaga air dan perluasan energi nuklir dalam strategi tersebut.