Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Usai Selat Hormuz, Laut Merah Bakal Jadi Titik Panas Selanjutnya dalam Perang Iran-Amerika

        Usai Selat Hormuz, Laut Merah Bakal Jadi Titik Panas Selanjutnya dalam Perang Iran-Amerika Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perang Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas kini disebut berpotensi meluas ke jalur pelayaran strategis lainnya setelah Selat Hormuz. Pintu Masuk ke Laut Merah, Bab el-Mandeb dinilai dapat menjadi target pemblokiran berikutnya jika konflik terus meningkat.

        Iran disebut-sebut sedang mengirim sinyal bahwa mereka siap memperluas tekanan terhadap Amerika Serikat. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan kelompok militan untuk mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb. Langkah tersebut dinilai dapat membuka front baru dalam konflik sekaligus mengancam dua jalur energi paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

        Baca Juga: Respons Kebijakan Amerika Serikat Terapkan Biaya Upeti di Selat Hormuz, Iran: Kami Akan Adil

        Teheran, sejak konflik dengan kedua negara meningkat, telah menunjukkan kemampuannya mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Kini, perhatian dunia mulai tertuju pada Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Ia juga menjadi jalur utama ekspor minyak Arab Saudi serta perdagangan internasional.

        Ancaman itu menguat setelah adanya pernyataan dari Pejabat Senior Yaman, Mohammed al-Farah. Ia menyatakan pasukan negaranya siap menutup Selat Bab el-Mandeb. Hal itu menyusul serangan dari Arab Saudi ke Yaman.

        Menurutnya, penutupan dua selat strategis secara bersamaan akan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar terhadap dunia.

        "Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup dalam aliansi operasional. Harga minyak kemudian akan melonjak hingga US$200 per barel dalam guncangan yang mengerikan," ujarnya, dikutip Rabu (15/7).

        Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa mereka sedang mempertimbangkan penggunaan wilayah tersebut sebagai alat tekanan tambahan terhadap Washington.

        Adapun Pakar Timur Tengah dari King's College London, Andreas Krieg menyebut ancaman menggunakan untuk menutup jalur itu sebagai "opsi nuklir" berikutnya setelah Selat Hormuz.

        Menurutnya, langkah tersebut kemungkinan baru akan diambil apabila perang besar tidak bisa lagi dihindari oleh Iran. Jika Amerika meningkatkan serangan terhadap infrastruktur penting negara itu, maka mereka dapat membalas melalui sekutunya di Yaman.

        "Pesannya adalah bukan hanya Hormuz. Namun Bab el-Mandeb juga berada dalam risiko," katanya.

        Ancaman ini bukan tanpa dasar. Kelompok Houthi sebelumnya telah berulang kali menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah. Hal itu terjadi setelah pecahnya perang di Gaza, Oktober 2023.

        Serangan itu memaksa banyak perusahaan pelayaran internasional mengalihkan rute kapal mengitari Afrika bagian selatan, sehingga biaya logistik dan distribusi energi meningkat tajam.

        Amerika Serikat dan Inggris saat itu bahkan melancarkan operasi militer serta membentuk misi angkatan laut multinasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah.

        Baca Juga: Don Ritto Ungkap Sosok Utama di Balik Kasus Febrie Adriansyah: Dia Tukang Catut Nama-nama Petinggi

        Meski demikian, para analis menilai semakin meluasnya ancaman terhadapdua jalur pelayaran strategis itu justru dapat meningkatkan tekanan kepada kedua negara untuk kembali ke meja perundingan sebelum dua jalur minyak terpenting dunia berubah menjadi medan utama konflik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: