Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Ngaku Siap Jadi Mediator Korut dan Korsel, Pengamat Internasional Soroti Kritik Domestik Soal Seringnya Kunjungan ke Luar Negeri

Prabowo Ngaku Siap Jadi Mediator Korut dan Korsel, Pengamat Internasional Soroti Kritik Domestik Soal Seringnya Kunjungan ke Luar Negeri Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya mengunjungi Korea Utara jika diminta Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, dalam upaya membuka jalur dialog antara Seoul dan Pyongyang.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Istana Kepresidenan, Jumat.

Ia mengungkapkan, Lee menanyakan kemungkinan dirinya mengunjungi Korea Utara untuk mendorong dialog, ketika keduanya bertemu di Seoul pada April lalu.

"Saya bilang, dengan segala hormat dan kesediaan, kalau Anda minta, saya akan pergi," kata Prabowo.

"Indonesia dipandang tidak memiliki kepentingan mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Kami memegang teguh prinsip itu," tambahnya.

Laporan dari South China Morning Post menyebutkan sejak menjabat tahun lalu, Presiden Lee berupaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara.

Namun, berbagai tawaran dialog berulang kali ditolak Pyongyang, yang pada 2024 menyatakan Korea Selatan sebagai negara musuh.

Kantor Presiden Korea Selatan pada Sabtu merilis pernyataan yang mendukung peran negara-negara seperti Indonesia yang memiliki hubungan baik dengan kedua Korea, untuk mendorong koeksistensi damai di Semenanjung Korea.

Kunjungan semacam itu dinilai bisa memperkuat citra diplomasi Indonesia sekaligus membuka saluran komunikasi antara kedua Korea.

Meski demikian, Peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies Nah Liang Tuang mengatakan langkah tersebut juga memungkinkan Pyongyang menunjukkan kepada dunia bahwa negaranya tidak sepenuhnya tertutup terhadap diplomasi.

Sebagai salah satu pendiri Gerakan Non-Blok sejak 1961, Indonesia memiliki klaim netralitas dan ketidakberpihakan.

"Ini berpotensi memberi kredibilitas di mata Korea Utara bahwa Indonesia tidak bias," kata Nah dilansir dari SCMP.

Meski demikian, ia mengingatkan hasil kunjungan mungkin terbatas. Dengan dukungan kuat China dan bantuan konkret dari Rusia, pengaruh ASEAN terhadap Korea Utara dinilai tidak besar.

Baru-baru ini, ASEAN mendapat kritik tajam dari Kim Yo-jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, setelah organisasi itu menyatakan “keprihatinan serius” atas pengembangan senjata nuklir Pyongyang. Kim Yo-jong menyebut seruan ASEAN untuk denuklirisasi total Semenanjung Korea sebagai “bodoh dan tolol”.

Analis urusan Korea Gabriela Bernal lebih optimistis terhadap kemungkinan kunjungan Prabowo. Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa opini publik di dalam negeri mungkin kurang mendukung perjalanan luar negeri tambahan, mengingat seringnya Prabowo bepergian ke luar negeri sejak menjabat.

Selain itu, hingga kini belum ada undangan resmi dari Korea Utara yang semakin terisolasi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat