Kredit Foto: Istimewa
Tingkat literasi keuangan kelompok usia 15-17 tahun di Indonesia masih berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam upaya mencapai target indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,35% pada 2029 yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), indeks literasi keuangan remaja usia 15-17 tahun tercatat sebesar 51,68%, lebih rendah dibandingkan tingkat literasi keuangan nasional yang telah mencapai 66,46%.
Kesenjangan tersebut mendorong berbagai pihak memperkuat edukasi keuangan sejak bangku sekolah. Sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka, materi literasi keuangan kini menjadi bagian dari pembelajaran ekonomi di tingkat sekolah menengah atas (SMA), dengan penekanan pada penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, guru dinilai memegang peran strategis untuk membangun pemahaman dan kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat di kalangan pelajar.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, PT FWD Insurance Indonesia menjalankan program FWD Financial Literacy for Educators yang memberikan pelatihan kepada 30 guru ekonomi SMA di Jakarta selama Februari hingga Juni 2026. Program tersebut ditargetkan memberikan dampak kepada sekitar 2.700 siswa melalui proses pembelajaran di sekolah.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F. Manik mengatakan peningkatan kapasitas guru merupakan salah satu langkah untuk memperluas literasi keuangan generasi muda.
"Kami percaya bahwa guru memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan. Melalui FWD Financial Literacy for Educators, kami ingin memperkuat kapasitas guru dengan memberikan pembekalan pembelajaran keuangan yang relevan agar dapat menumbuhkan kebiasaan finansial yang sehat pada siswa, sekaligus menjadi wujud komitmen FWD Insurance dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan," ujar Rudy dalam keterangan resmi, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda, PINTU Gandeng Mahasiswa HIMAPEN
Baca Juga: Cetak Investor Gen Z, MNC Sekuritas dan MNC Bank Genjot Literasi Pasar Modal
Program tersebut dikembangkan bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI), yang terlibat dalam penyusunan modul pembelajaran, pelatihan guru, hingga pengembangan materi asesmen sebagai bagian dari proses sertifikasi.
Ketua Subkelompok Kurikulum dan Penilaian Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Joko Arwanto, menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta diperlukan untuk memperkuat penyampaian materi literasi keuangan di sekolah.
"Kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Jakarta, khususnya untuk memperkuat literasi keuangan di lingkungan sekolah. Kehadiran program seperti ini menjadi salah satu contoh bagaimana pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta dapat saling melengkapi dalam memperkuat kapasitas guru, sehingga literasi keuangan dapat tersampaikan dengan lebih baik kepada para siswa," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: