Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Bikin Kejutan, Kesepakatan Nuklir Arab Saudi Kini Bergantung pada Israel

        Trump Bikin Kejutan, Kesepakatan Nuklir Arab Saudi Kini Bergantung pada Israel Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat kejutan dengan menetapkan syarat baru dalam kesepakatan nuklir sipil bersama Arab Saudi. Trump menyatakan kesepakatan tersebut hanya akan berjalan jika Riyadh mengakui Israel melalui Perjanjian Abraham.

        Pernyataan itu muncul hanya sehari setelah kesepakatan nuklir diumumkan. Syarat baru tersebut memicu tanda tanya karena sebelumnya tidak tercantum dalam isi perjanjian yang disepakati kedua negara.

        Trump menyampaikan sikapnya melalui akun Truth Social. Ia menegaskan persetujuan akhir terhadap kerja sama nuklir bergantung pada keputusan Arab Saudi bergabung dalam Perjanjian Abraham.

        "Akan disetujui, tetapi sepenuhnya bergantung pada Arab Saudi bergabung dengan Perjanjian Abraham yang sangat dihormati dan sukses," kata Trump.

        Gedung Putih memastikan syarat tersebut bukan keputusan yang muncul secara mendadak. Pemerintah Amerika Serikat menyebut Trump telah menyampaikan ketentuan itu kepada pihak Saudi dalam berbagai pembicaraan sebelumnya.

        "Presiden selalu menjadi penentu akhir kesepakatan. Dia telah mengatakan jika mereka tidak bergabung dengan Perjanjian Abraham, kesepakatan itu batal," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

        Leavitt menambahkan Trump telah beberapa kali membahas persoalan tersebut secara langsung dengan pemerintah Arab Saudi. Hingga kini, Riyadh belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan terbaru dari Presiden AS itu.

        "Presiden telah berbicara langsung dengan pihak Saudi tentang hal ini dalam banyak percakapan di masa lalu, dan pemerintah akan terus terlibat dalam percakapan tersebut," ucap Karoline Leavitt.

        Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik peluang normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. Menurutnya, langkah tersebut akan menjadi tonggak penting bagi perdamaian di Timur Tengah.

        "Lompatan bersejarah," kata Benjamin Netanyahu.

        Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai syarat baru dari Trump justru berpotensi menggagalkan kesepakatan nuklir tersebut. Mereka menilai Arab Saudi selama ini konsisten menolak bergabung dengan Perjanjian Abraham.

        Baca Juga: Senator Amerika Serikat: Hanya Trump dan Kroninya yang Ingin Lanjutkan Perang Iran

        "Jika Washington mencoba memaksakan normalisasi pada Riyadh, kemungkinan besar tidak akan berhasil dengan baik," kata pengamat Royal United Services Institute (RUSI), H.A. Hellyer.

        Kesepakatan nuklir tersebut juga menuai kritik karena dinilai berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah. Apalagi, laporan sebelumnya menyebut perusahaan Amerika Serikat berpeluang membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi apabila kerja sama itu benar-benar berjalan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: