Tak Ada Takutnya, Gen Z India jadi Mayoritas Demonstran yang Guncang Pemerintahan Narendra Modi Pakai Humor Politik di Media Sosial
Kredit Foto: Reuters/Jeff J Mitchell
Gelombang protes yang dipelopori generasi muda terus mengguncang India. Aksi yang bermula dari kemarahan terhadap skandal bocornya soal ujian masuk perguruan tinggi kini berkembang menjadi gerakan yang menyasar pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi lewat satire, humor politik, dan kampanye di media sosial.
Pada Sabtu (25/7/2026), ribuan demonstran turun ke jalanan New Delhi. Dari Jantar Mantar hingga Connaught Place, berbagai poster satire yang menyindir lembaga legislatif, eksekutif, hingga yudikatif terlihat menghiasi jalanan. Grafiti yang mengkritik Modi juga muncul di sejumlah titik.
Aksi tersebut berlangsung beberapa jam setelah Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri. Pengunduran dirinya disambut meriah oleh para demonstran karena menjadi salah satu tuntutan utama mereka.
Sejumlah peserta aksi bahkan melontarkan candaan kepada aparat keamanan sambil mengatakan, "sampai bertemu di aksi berikutnya". Di berbagai kota lain, media sosial dipenuhi video anak-anak muda yang menari di depan polisi, membawa poster bernada satire, hingga memanjat barikade.
Gerakan ini dikenal sebagai Cockroach Janta Party (CJP). Nama tersebut muncul setelah seorang pejabat tinggi menyebut anak muda pengangguran sebagai "kecoak". Julukan itu kemudian dipelesetkan menjadi sindiran terhadap partai berkuasa, Bharatiya Janata Party (BJP).
Sejak skandal ujian perguruan tinggi mencuat pada Mei 2026, aksi protes terus meluas ke berbagai wilayah. Berbeda dengan demonstrasi konvensional, gerakan ini memanfaatkan reels Instagram, meme, jingle satire, hingga poster-poster kreatif untuk menarik perhatian publik.
Penggunaan humor politik dalam aksi protes dinilai bukan hal baru di India. Mengutip DW, Satire telah lama digunakan sebagai sarana kritik terhadap kekuasaan, termasuk pada masa pembatasan kebebasan sipil saat status darurat pemerintahan Indira Gandhi pada 1975-1977.
Kemarahan publik ini bisa menjadi tekanan politik serius bagi pemerintahan Modi. Gelombang protes secara langsung menantang citra Modi yang selama lebih dari satu dekade dibangun melalui strategi komunikasi politik yang kuat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: