Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perry Warjiyo Dipaksa Mundur? Ferry Latuhihin Soroti Peran Menkeu Purbaya

        Perry Warjiyo Dipaksa Mundur? Ferry Latuhihin Soroti Peran Menkeu Purbaya Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengejutkan banyak pihak. Ekonom sekaligus analis pasar modal, Ferry Latuhihin, menilai keputusan tersebut tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

        Ferry, yang pernah menjabat Chief Economist di Bank International Indonesia (BII), menyebut tekanan terhadap kalangan ekonom semakin besar sejak Purbaya memimpin Kementerian Keuangan. Kebijakan deficit financing yang dijalankan Purbaya, menurutnya, membuat BI harus menanggung beban dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) hingga Rp188,68 triliun dan menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai lebih dari Rp1.000 triliun.

        "Rumor yang beredar, beliau dipaksa untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Banyak yang menduga, ini tidak terlepas figur Purbaya sebagai Menteri Keuangan," ujar Ferry dalam tayangan YouTube pribadinya, dikutip Rabu (29/7).

        "Kita tahu semua, di kalangan ekonom terus-menerus mendapat tekanan sejak Purbaya menjadi Menteri Keuangan. Itu kita lihat bagaimana BI membeli SBN dan mengeluarkan SRBI, itu tidak terlepas dari figur Purbaya yang ingin melakukan apa yang namanya deficit financing," lanjutnya.

        Ia menambahkan, langkah BI yang semakin diarahkan untuk menopang kebijakan fiskal pemerintah berpotensi berbahaya bagi independensi bank sentral.

        "Dengan kata lain, BI harus menjadi alat pemerintah. Ini sangat berbahaya sekali," jelasnya.

        Ferry juga menyinggung kabar adanya perselisihan antara Perry dan Purbaya dalam Rapat Dewan Gubernur BI April 2025. Saat itu, Perry memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah, sementara Purbaya disebut tidak sepakat

        "Dari kacamata moneter, saya kira, apa yang dilakukan Pak Perry Warjiyo, mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen itu sudah tepat. Sebab, kalau BI-Rate dinaikkan ke 6 persen demi membela Rupiah, itu salah, karena ongkosnya adalah ongkos ekonomi," tegasnya.

        "Ketika kondisi ekonomi kita tidak baik-baik saja, menaikkan suku bunga itu sama juga dengan bunuh diri. Jadi, memang tepat BI-Rate dipertahankan di 5,75 persen. Menurunkannya, saya rasa tidak tepat juga, sebab kalau BI-Rate diturunkan, itu akan menambah tekanan terhadap Rupiah menghadapi dollar. Jadi, memang keputusan yang tepat adalah mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen," jelasnya.

        Di sisi lain, pemerintah telah menerima surat pengunduran diri Perry. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi atas dedikasi Perry selama tujuh tahun memimpin BI.

        Baca Juga: 3 Skenario di Balik Mundurnya Perry Warjiyo dari Kursi Gubernur BI: Tak Ada yang Benar-benar Bersih

        “Bapak Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo. Tentu disertai dengan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih tujuh tahun lamanya memimpin Bank Indonesia,” kata Prasetyo dalam keterangan pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026).

        Untuk sementara, posisi Gubernur BI akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: