Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Nilai Prabowo Tak Suka Dikritik, Mahfud MD: Bilang Demokrasi, Tapi Pengkritik Malah Dihantam Balik

        Nilai Prabowo Tak Suka Dikritik, Mahfud MD: Bilang Demokrasi, Tapi Pengkritik Malah Dihantam Balik Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut adanya "londo ireng" dalam pidatonya terus menuai respons dari berbagai kalangan. Salah satu kritik datang dari Eks Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD.

        Mahfud mengatakan seorang pemimpin memang kerap menyampaikan bahwa kritik merupakan bagian dari demokrasi. Namun, menurutnya, praktik yang terjadi justru berbeda. Ia menilai ucapan londo ireng mencerminkan sikap pemerintah yang tidak nyaman terhadap kritik.

        Baca Juga: Mahfud MD: Tamparan Hotman Paris ke Prabowo Bukanlah Pelanggaran Hukum, Kecuali Presiden Merasa...

        "Presiden ini tidak suka pada kritik, selalu mengatakan ini negara demokrasi, silakan kritik pemerintah, tapi sesudah itu menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan yang substantif," kata Mahfud dalam tayangan di YouTube Mahfud MD Official, dikutip Rabu (29/7/2026).

        Mahfud mengaitkan penilaiannya dengan penggunaan istilah "londo ireng" yang sempat disampaikan presiden ketika menyinggung jurnalis, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

        Menurut Mahfud, istilah tersebut memiliki makna sejarah yang sangat negatif karena identik dengan pengkhianatan terhadap perjuangan bangsa.

        "Jadi kalau orang disebut londo ireng itu kalau kritik dia, seperti pengamat, jurnalis yang paling banyak, itu agak menyakitkan karena londo ireng itu sejarahnya pengkhianatan terhadap perjuangan," ujarnya.

        Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan kelompok masyarakat sipil tidak bisa disamakan dengan tindakan mengabdi kepada kepentingan asing. Mahfud bahkan menilai pihak yang menyampaikan kritik selama ini justru tidak memiliki hubungan dengan pihak luar negeri.

        "Kalau sekarang konteksnya antek asing, sementara kita ini yang kritik-kritik tidak pernah berhubungan dengan asing, yang berhubungan dengan asing kan pemerintah," katanya.

        Menurut Mahfud, kritik yang disampaikan masyarakat bertujuan memberi masukan agar kebijakan pemerintah menjadi lebih baik, bukan untuk menjatuhkan negara.

        "Kalau kita selalu memberi solusi, masa disebut londo ireng. Kalau londo ireng itu tugasnya menumpas gerakan kemerdekaan," tuturnya.

        Adapun Istana membantah bahwa presiden bermaksud melabeli seluruh jurnalis, lembaga swadaya masyarakat, maupun pengamat sebagai "londo ireng".

        Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengatakan publik telah salah memahami pidato tersebut. Menurut Hasan, Prabowo hanya menyebut adanya oknum tertentu, bukan menggeneralisasi seluruh profesi.

        Baca Juga: Diungkap Purnawirawan Mayjen, Kekuatan Asing hingga Polisi Jadi Bekingnya Jokowi di Kasus Ijazah

        Ia menjelaskan bahwa kritik terhadap pidato presiden muncul karena kesalahan dalam memahami logika pernyataan. Hasan mengibaratkan hal tersebut seperti pernyataan bahwa presiden harus orang lokal, namun tidak semua orang otomatis menjadi presiden. Karena itu, Hasan meminta publik tidak membalik makna pidato presiden.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: