Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Naik 0,53% ke Level 6.123 pada Awal Perdagangan

        IHSG Naik 0,53% ke Level 6.123 pada Awal Perdagangan Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Hingga awal sesi, IHSG naik 0,53% atau 32,40 poin ke level 6.123,79, setelah sehari sebelumnya ditutup di zona merah.

        Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.128,11 dan bergerak di level terendah 6.106,54 pada awal perdagangan.

        Aktivitas transaksi di pasar juga terpantau cukup ramai. Volume perdagangan mencapai 1,55 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp544,57 miliar. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat 81.960 kali transaksi, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp10.744,76 triliun.

        Dari total saham yang diperdagangkan, 324 saham menguat, 124 saham melemah, dan 202 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan sentimen positif mulai mewarnai pergerakan pasar pada awal perdagangan hari ini.

        Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (30/7/2026) dan berpotensi menguji level psikologis 6.000. Tekanan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen global, faktor domestik, serta sinyal teknikal yang mulai melemah.

        Phintraco Sekuritas menyebutkan histogram MACD terus menyempit dan berpotensi membentuk death cross, yang mengindikasikan pelemahan tren. Meski demikian, IHSG masih bertahan di atas garis rata-rata pergerakan MA20 dan MA50, sehingga peluang bertahan di area support masih terbuka.

        "Di tengah berbagai sentimen eksternal dan domestik serta faktor teknikal, IHSG diperkirakan akan menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan Kamis," tulis riset Phintraco Sekuritas.

        Pada perdagangan sebelumnya, sektor properti menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 2,75%, sedangkan sektor teknologi mencatat kinerja terbaik setelah naik 0,18%.

        Dari pasar valuta asing, rupiah ditutup di level Rp18.045 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga menyentuh Rp18.100 per dolar AS.

        Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan hasil evaluasi mayor Indeks IDXBUMN20 yang berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027.

        Baca Juga: Penghimpunan Dana Pasar Modal Sudah Rp125,73 Triliun, OJK Optimistis Capai Target

        Baca Juga: BEI Minta Investor Tenang usai Perry Warjiyo Mundur dari Kursi Gubernur BI

        Baca Juga: Masuk Radar BEI, Saham DOOH, FILM, dan TAMA Kompak Ambruk

        "Tidak ada perubahan komposisi saham dalam indeks tersebut, namun BEI melakukan penyesuaian bobot masing-masing emiten," ungkap Phintraco Sekuritas.

        Sejumlah saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM mengalami penurunan bobot setelah diterapkannya batas maksimal 15%. Sebaliknya, bobot beberapa emiten BUMN lainnya meningkat, antara lain ANTM, PGAS, MTEL, BRIS, dan PTBA.

        Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) terus mempercepat reformasi pasar modal menjelang tinjauan indeks MSCI pada November 2026. Regulator juga menargetkan Peraturan OJK (POJK) tentang Demutualisasi Bursa Efek Indonesia dapat diterbitkan pada pekan kedua September 2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: