Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Transformasi menuju ekonomi hijau di Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM). Namun, tantangan besar masih muncul dari sisi tenaga kerja karena jumlah pekerja dengan kompetensi hijau (green jobs) masih terbatas.
Chairwoman Inovasi Muda sekaligus representatif Thematic Forum Green Jobs Ecosystem Indonesia Sustainability 360 Forum, Restu Andini, mengatakan kesiapan tenaga kerja menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat transisi ekonomi hijau di Indonesia.
Menurutnya, saat ini baru sekitar 2,1% tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan green jobs. Padahal, seiring berkembangnya ekonomi hijau, sekitar 36,5% pekerjaan ke depan berpotensi masuk dalam kategori tersebut dengan dukungan peningkatan kompetensi.
“Green jobs ini bukan hanya tentang menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga bagaimana pekerjaan yang sudah ada bertransformasi mengikuti kebutuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar Restu dalam konferensi pers peluncuran Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurut Restu, perubahan menuju ekonomi hijau akan memengaruhi berbagai sektor industri. Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi kebutuhan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan industri.
Perusahaan Perlu Ubah Cara Pandang Sustainability
Selain kesiapan tenaga kerja, dunia usaha juga menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan menuju ekonomi hijau.
Executive Director Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Indah Budiani, menilai masih ada perusahaan yang memandang sustainability hanya sebagai program tambahan atau bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Padahal, menurutnya, keberlanjutan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan agar mampu bertahan menghadapi perubahan ekonomi global.
“Sustainability itu sudah bukan hanya program tambahan lagi untuk perusahaan. Sustainability harus menjadi strategi bisnis itu sendiri,” ujar Indah.
Menurut Indah, perusahaan yang ingin bertahan dalam jangka panjang perlu membangun model bisnis yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG).
Standar Keberlanjutan Dorong Perusahaan Lebih Transparan
Dari sisi tata kelola, Global Reporting Initiative (GRI) melihat perkembangan praktik keberlanjutan perusahaan di Indonesia mulai bergerak menuju standar yang lebih terukur.
Regional Program Manager GRI, Lany Harijanti, mengatakan penerapan standar pelaporan keberlanjutan menjadi salah satu langkah penting agar perusahaan dapat memahami dampak aktivitas bisnisnya.
Menurutnya, laporan keberlanjutan tidak hanya berfungsi sebagai dokumen administratif, tetapi menjadi alat bagi perusahaan untuk mengevaluasi strategi dan meningkatkan transparansi kepada pemangku kepentingan.
“Forum seperti ini menjadi ruang berbagi praktik dan pembelajaran bagi perusahaan yang memiliki komitmen terhadap sustainability,” ujar Lany.
Baca Juga: Pembiayaan Hijau Tembus Ratusan Triliun, Perbankan Diminta Perkuat Tata Kelola
Baca Juga: IHSG Kembali Balik ke Zona Hijau, Naik 0,17% ke Level 6.141,16
Chairman Indonesia Sustainability 360 Forum sekaligus CEO Olahkarsa Group, Unggul Ananta, mengatakan transisi menuju ekonomi hijau tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Menurutnya, pemerintah, dunia usaha, akademisi, investor, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda perlu membangun kolaborasi agar agenda ekonomi hijau dapat berjalan lebih cepat.
“Transisi menuju green economy tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Dibutuhkan ruang temu agar kolaborasi lintas sektor menghasilkan aksi konkret, bukan sekadar wacana,” ujar Unggul.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi hijau yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui tenaga kerja dan industri yang lebih berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: