Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rangkul Tapi Kunci: Strategi Tersembunyi Gerindra Hadapi Elektabilitas Dedi Mulyadi

        Rangkul Tapi Kunci: Strategi Tersembunyi Gerindra Hadapi Elektabilitas Dedi Mulyadi Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai Partai Gerindra tidak perlu menyerang langsung kadernya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang saat ini elektabilitasnya lebih tinggi dibanding Presiden Prabowo Subianto.

        Menurut Hersu, jika Gerindra salah langkah dengan mengambil tindakan keras, Dedi justru bisa memainkan peran sebagai korban (playing victim). Hal itu berpotensi meningkatkan popularitasnya.

        "Nah misalnya kemudian Gerindra itu mengambil langkah-langkah yang keras terhadap Dedi Mulyadi secara frontal, dan atau kemudian ini banyak yang menyinyiri dari kalangan internal Partai Gerindra terhadap Dedi Mulyadi. Kalau ini yang terjadi, justru malah akan memberikan tenaga dan panggung baru bagi Dedi Mulyadi untuk memainkan narasi politik terzalimi," ujarnya dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Jumat (31/7).

        Karena itu, ia menilai langkah internal Gerindra harus dilakukan dengan hati-hati. "Strategi yang pertama saya kira mungkin yang paling tepat, karena dia kader, dia harus tetap dirangkul tapi sambil dikunci gitu ya," katanya.

        Ia menyebut strategi itu mirip dengan istilah golden handcuffs. DPP Pusat bisa memberikan tugas resmi yang spesifik dan menyita waktu serta tenaga Dedi di tingkat regional. Aktivitas seperti menemui warga, menangani korban bencana, menertibkan bangunan liar, hingga memantau pembangunan jalan bisa terus dilakukan, tetapi fokusnya harus di Jawa Barat.

        "Misalnya kamu enggak boleh pergi dari Jawa Barat karena ini ada program strategis nasional di Jawa Barat, fokusnya di situ. Ya ini menutup ruang gerak safari politik lintas provinsi tanpa terkesan dilarang," tandasnya.

        Sebagai informasi, dalam survei elektabilitas calon presiden terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia pada akhir Juli 2026, Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo.

        Baca Juga: Ngonten Tiap Hari, KDM Libas Prabowo di Survei SMRC

        Dalam simulasi semi terbuka SMRC, Dedi menempati peringkat pertama dengan elektabilitas 35%, sedangkan Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5%. Dalam simulasi head to head, keunggulan Dedi melebar hingga 59% berbanding 28,3% untuk Prabowo. 

        Indikator Politik Indonesia juga mencatat Dedi memimpin dalam simulasi elektabilitas. Meski tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo lebih tinggi (98,8% vs 88,2%), tingkat kesukaan responden terhadap Dedi jauh lebih unggul, yakni 88,3% dibanding Prabowo yang hanya 68,1%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: