Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Lanjut Melemah, Pasar Tunggu Kemajuan Upaya Akhiri Perang Iran

        Harga Minyak Lanjut Melemah, Pasar Tunggu Kemajuan Upaya Akhiri Perang Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak dunia kembali melanjutkan pelemahan pada Rabu setelah mencatat penurunan tajam dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang melibatkan Iran serta membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat diblokade.

        Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 92 sen atau sekitar 1,2% menjadi US$78,44 per barel pada pukul 03.30 GMT. Sepanjang pekan ini, harga Brent telah merosot lebih dari 12%.

        Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$1,07 atau 1,4% menjadi US$74,70 per barel. Sepanjang minggu ini, harga WTI telah melemah lebih dari 11%.

        Penurunan harga minyak dipicu pernyataan Qatar pada Selasa yang menyebut para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik. Namun, Teheran membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan bahwa pembicaraan antara kedua pihak sedang berlangsung.

        Pada penutupan perdagangan Selasa, harga Brent anjlok lebih dari 5% hingga berada di bawah level US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.

        Kepala Market Insights Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan meskipun premi risiko geopolitik mulai mereda, kondisi pasokan global masih memerlukan kewaspadaan.

        "Jika upaya diplomatik gagal dan pasokan fisik benar-benar terganggu, pelemahan harga saat ini kemungkinan hanya bersifat sementara. Persediaan yang lebih ketat dapat memperbesar dampak dari setiap gangguan pasokan di masa mendatang," ujarnya.

        Sebelum konflik pecah, sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Pada Maret lalu, harga energi sempat melonjak hingga 50% akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

        Analis IG menilai titik krusial dalam negosiasi adalah apakah Iran tetap bersikeras mempertahankan tingkat kendali tertentu atas Selat Hormuz dan apakah Amerika Serikat akan tetap menolak tuntutan tersebut.

        Baca Juga: Prabowo Minta Harga BBM Subsidi Tetap, BBM Nonsubsidi Berpeluang Turun Ikuti Harga Minyak Dunia

        Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 5% Usai AS dan Iran Hentikan Serangan

        Di sisi lain, Presiden Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani pada Selasa melakukan pembicaraan melalui telepon mengenai upaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran guna meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian konflik yang lebih permanen.

        Dari sisi fundamental, data mingguan American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin Amerika Serikat meningkat pada pekan lalu, sementara stok produk distilat mengalami penurunan.

        Menurut sumber pasar yang mengutip data API, persediaan minyak mentah AS bertambah sekitar 2,7 juta barel pada pekan yang berakhir 31 Juli.

        Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan energi dari U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 10.30 waktu setempat atau 14.30 GMT.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: