Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Terungkap Penyebab Data MBG Membengkak, Satu Anak Bisa Tercatat Terima Dua Porsi Sekaligus

        Terungkap Penyebab Data MBG Membengkak, Satu Anak Bisa Tercatat Terima Dua Porsi Sekaligus Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap penyebab membengkaknya data penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu penyebab utamanya adalah adanya penerima yang tercatat lebih dari satu kali dalam sistem sehingga seolah-olah berhak memperoleh dua porsi makanan.

        Temuan tersebut membuat pemerintah kini melakukan penyisiran ulang terhadap seluruh data penerima MBG. Kepala BGN Sudaryono mengatakan proses itu dilakukan agar tidak ada lagi penerima yang memiliki identitas ganda.

        Menurut Sudaryono, salah satu contoh kasus yang ditemukan berasal dari peserta didik yang terdaftar di dua lembaga pendidikan berbeda. Kondisi itu membuat satu orang masuk dua kali dalam basis data penerima MBG.

        "Misalnya ada anak didata di MTs tapi dia juga adalah santri pondok pesantren, atau dia SMP di dalam pondok, dihitung di data Kemendikdasmen sebagai siswa, kemudian dia juga tercatat sebagai santri di pondok pesantren," kata Sudaryono kepada wartawan usai rapat di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

        BGN kini berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk menyatukan data tersebut. Langkah ini melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kependudukan dan BKKBN, Kementerian Agama, hingga Kementerian Kesehatan.

        Sudaryono mengatakan penyatuan data penting dilakukan agar pemerintah benar-benar memiliki satu basis data penerima MBG yang akurat. Dengan begitu, tidak ada lagi satu orang yang memperoleh hak lebih dari semestinya.

        "Sehingga kita betul-betul menemukan sebetulnya tuh jadi tidak ada dobel identitas gitu," ujarnya.

        Hasil penyisiran sementara menunjukkan jumlah penerima MBG kemungkinan akan berkurang cukup signifikan. BGN memperkirakan sekitar enam juta data akan dicoret karena terindikasi sebagai data ganda.

        "Kalau nggak salah ada pengurangannya ada sekitar ya ada 6 juta apa berapa gitu. Kita sisir terus," ungkap Sudaryono.

        Baca Juga: Ultimatum BGN! Dapur MBG Tanpa Sertifikat Sanitasi hingga 10 Agustus Dipastikan Ditutup Permanen

        Meski jumlah penerima berpotensi menyusut, Sudaryono menegaskan langkah tersebut bukan berarti pemerintah mengurangi cakupan program MBG. Penyisiran dilakukan semata-mata untuk memastikan bantuan benar-benar diterima oleh sasaran yang berhak.

        Menurutnya, keakuratan data menjadi syarat penting agar pelaksanaan MBG berjalan efektif dan anggaran negara tidak terbuang akibat kesalahan administrasi.

        Dengan basis data tunggal, pemerintah berharap distribusi makanan bergizi menjadi lebih tepat sasaran. Selain menghindari penerima ganda, proses tersebut juga diyakini dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: