Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) menjadi salah satu emiten dengan kinerja harga saham paling mencolok di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa waktu terakhir. Dalam satu bulan terakhir, saham perseroan melonjak sekitar 274%, menjadikannya salah satu saham dengan penguatan tertinggi di pasar.
Reli tersebut turut mengarahkan perhatian investor kepada PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang merupakan pemegang saham pengendali MDIA. Berdasarkan keterbukaan informasi terakhir, VIVA masih menguasai sekitar 80,73% saham MDIA, sehingga kenaikan kapitalisasi pasar anak usahanya secara langsung meningkatkan nilai investasi yang dimiliki perseroan.
Kenaikan valuasi MDIA pun memunculkan spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi dampaknya terhadap valuasi saham VIVA. Pasalnya, peningkatan nilai aset investasi tersebut dinilai berpotensi belum sepenuhnya tercermin pada harga saham VIVA di bursa.
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan apresiasi harga saham MDIA menjadi sentimen positif bagi VIVA karena meningkatkan nilai aset investasi yang dimiliki perusahaan.
"VIVA memiliki kepemilikan mayoritas di MDIA, sehingga secara valuasi kenaikan kapitalisasi pasar MDIA tentu akan meningkatkan nilai investasi VIVA. Namun, pasar juga akan melihat apakah kenaikan valuasi tersebut dapat dikonversi menjadi peningkatan nilai bagi pemegang saham melalui kinerja operasional ataupun aksi korporasi ke depan," ujar Abdul Azis, Kamis (6/8).
Meski demikian, ia mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada lonjakan harga saham anak usaha. Menurutnya, penilaian terhadap saham induk tetap harus mempertimbangkan fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, struktur keuangan, serta strategi perusahaan dalam mengoptimalkan aset yang dimiliki.
Di sisi lain, hingga kini belum terdapat informasi material maupun aksi korporasi yang diumumkan perseroan sebagai pemicu utama kenaikan harga saham MDIA. Dalam jawaban atas permintaan penjelasan BEI, manajemen MDIA menyatakan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi nilai efek maupun keputusan investasi investor.
Perseroan juga menegaskan tidak memiliki rencana aksi korporasi dalam tiga bulan mendatang.
Baca Juga: Suspensi Dicabut, Saham TGUK Kembali Diperdagangkan Mulai 6 Agustus 2026
Sebelumnya, lonjakan harga saham MDIA yang sangat signifikan sempat membuat BEI menghentikan sementara perdagangan saham tersebut sebagai langkah cooling down. Suspensi kemudian dicabut setelah bursa memberikan waktu bagi investor untuk mempertimbangkan informasi yang tersedia.
Dengan kepemilikan mencapai 80,73%, VIVA menjadi pihak yang paling diuntungkan apabila valuasi MDIA terus meningkat. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai mencermati apakah kenaikan nilai aset MDIA pada akhirnya dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham VIVA.
Namun, Abdul Azis mengingatkan bahwa reli harga saham dalam waktu singkat umumnya diiringi volatilitas yang tinggi. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada analisis fundamental dan prospek bisnis jangka panjang, bukan semata-mata mengikuti kenaikan harga saham.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: