Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bukan Cuma Soal Suku Bunga, Ini Alasan Destry Dinilai Cocok Pimpin BI

        Bukan Cuma Soal Suku Bunga, Ini Alasan Destry Dinilai Cocok Pimpin BI Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter sekaligus mempersiapkan bank sentral menghadapi perubahan ekonomi global.

        Menurut Fakhrul, Destry memiliki pengalaman lintas sektor yang lengkap, mulai dari akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun di jajaran Dewan Gubernur BI.

        "Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia. Beliau memahami teori ekonomi, dinamika pasar keuangan, stabilitas perbankan, hingga proses pengambilan kebijakan di Bank Indonesia," ujar Fakhrul.

        Dia mengatakan tantangan Gubernur BI berikutnya berbeda dibandingkan saat kerangka inflation targeting dibangun lebih dari dua dekade lalu. Perubahan teknologi, kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, demografi, hingga ketidakpastian geopolitik kini turut memengaruhi perekonomian.

        "Dunia yang akan dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan lagi dunia ketika inflasi dan suku bunga menjadi satu-satunya variabel utama yang menentukan arah ekonomi. Kita sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, deglobalisasi mengubah rantai pasok, dan geopolitik mengubah arah arus modal global," katanya.

        Karena itu, menurut Fakhrul, bank sentral perlu mampu membaca perubahan struktural jangka panjang, bukan hanya merespons fluktuasi ekonomi jangka pendek. Dia menilai Destry lebih tepat dilihat sebagai central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas, bukan sekadar dalam dikotomi hawkish atau dovish.

        "Saya melihat beliau sebagai seorang central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan. Ketika kondisi membutuhkan kebijakan yang tegas untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas pasar, beliau mendukung langkah tersebut," ujarnya.

        Selain arah kebijakan moneter, Fakhrul menyoroti pentingnya komunikasi kebijakan BI. Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, pasar dan masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai alasan di balik setiap kebijakan serta arah kebijakan selanjutnya.

        Menurut dia, komunikasi BI juga perlu menjelaskan keseluruhan policy mix, tidak hanya berfokus pada BI Rate. Instrumen seperti operasi moneter, pengelolaan likuiditas, kebijakan nilai tukar, kebijakan makroprudensial, hingga pendalaman pasar keuangan perlu dikomunikasikan secara lebih utuh.

        Fakhrul juga menilai tantangan berikutnya adalah memastikan stabilisasi ekonomi diterjemahkan menjadi kondisi likuiditas yang lebih sehat dan transmisi kebijakan yang semakin efektif. Fokus bank sentral, menurutnya, tidak semata-mata pada perubahan suku bunga, tetapi juga pada bagaimana likuiditas mengalir ke sektor produktif dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

        "Bank sentral modern tidak berhenti pada stabilisasi. Tahap berikutnya adalah bagaimana stabilitas diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat, kurva imbal hasil yang semakin normal, pembiayaan sektor produktif yang semakin efektif, serta meningkatnya kepercayaan dunia usaha untuk kembali berinvestasi," kata Fakhrul.

        Baca Juga: Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Rekam Jejak Destry Damayanti

        Baca Juga: Bos LPS Sebut Destry Punya 'Paket Lengkap' untuk Pimpin BI

        Baca Juga: Ekonom Nilai Destry Pilihan Tepat Prabowo, Tantangan Gubernur BI Berikutnya Makin Kompleks

        Di sisi lain, Fakhrul menegaskan pentingnya menjaga independensi BI sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan sektor keuangan. Dia berharap kepemimpinan baru BI juga memperkuat riset strategis mengenai AI, produktivitas, geopolitik, digitalisasi, ketahanan rantai pasok, demografi, serta transformasi sistem keuangan.

        Menurutnya, keberhasilan Gubernur BI berikutnya tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga inflasi dan nilai tukar, tetapi juga dari kemampuan bank sentral beradaptasi terhadap perubahan ekonomi global tanpa kehilangan kredibilitas dan independensinya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: