Kredit Foto: PLN UID Sulselrabar
Perubahan mulai terlihat di Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan wisata yang berada di bentang karst Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark itu mulai meninggalkan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi sungai dan beralih menggunakan perahu listrik.
Peralihan tersebut didorong PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). PLN telah memberikan dua unit perahu lengkap dengan motor listrik dan baterai untuk mendukung aktivitas wisata sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Anggota Komunitas Anak Sungai, Sunardi, mengatakan penggunaan perahu listrik memberikan sejumlah keuntungan bagi pengelola maupun wisatawan, terutama dari sisi biaya operasional dan kenyamanan perjalanan.
“Kalau dirupiahkan itu kurang lebih Rp3.000 satu kali cas,” kata Sunardi di Rammang-Rammang, Senin (10/8/2026).
Biaya tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perahu berbahan bakar minyak. Menurut Sunardi, satu kali perjalanan menggunakan perahu BBM dapat menghabiskan sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000.
Selain lebih murah, perahu listrik juga tidak menghasilkan suara mesin seperti perahu BBM. Kondisi itu membuat wisatawan dapat menikmati perjalanan menyusuri sungai sekaligus mendengarkan penjelasan mengenai bentang alam dan sejarah Rammang-Rammang.
“Wisatawan sangat senang menggunakan perahu listrik karena menjaga ekosistem,” ujarnya.
Dari penolakan tambang ke wisata geopark
Perubahan penggunaan energi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Rammang-Rammang dalam mempertahankan kawasan karst.
Sebelum berkembang sebagai destinasi wisata, masyarakat setempat pernah menolak rencana penggarapan kawasan untuk pertambangan. Penolakan itu dilakukan karena warga ingin mempertahankan bentang karst dan sumber daya alam yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Seiring berkembangnya penelitian, kawasan Maros-Pangkep diketahui memiliki nilai geologi, arkeologi, dan keanekaragaman hayati yang tinggi.
UNESCO mencatat kawasan tersebut memiliki 572 gua dengan lebih dari 332 jenis artefak prasejarah. Salah satu temuan paling penting adalah lukisan babi di Leang Tedongnge yang diperkirakan berusia sekitar 45.500 tahun.
Kawasan ini juga memiliki sekitar 1.437 spesies flora dan fauna, termasuk spesies endemik Sulawesi. Nilai tersebut menjadi bagian dari alasan Maros-Pangkep ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023.
Bagi masyarakat Rammang-Rammang, perkembangan wisata menjadi pilihan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan tanpa harus mengubah bentang alam karst.
Hampir 300 kepala keluarga di kawasan tersebut kini menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata, mulai dari pengemudi perahu, pemandu wisata, pedagang, pengelola homestay hingga jasa lainnya.
Perahu listrik dipakai tim penilai UNESCO
Penggunaan perahu listrik PLN bahkan telah menjadi bagian dari perjalanan penilaian kawasan tersebut.
Sunardi mengatakan perahu listrik PLN digunakan untuk membawa tim penilai UNESCO saat melakukan kunjungan ke Rammang-Rammang pada 2022, ketika kawasan tersebut masih menjalani proses penilaian.
Menurut dia, tim penilai menikmati perjalanan menggunakan perahu listrik dan memberikan apresiasi terhadap penggunaannya sebagai moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.
“Dia menikmati perjalanan itu, bahkan dia memuji perahu listrik,” kata Sunardi.
Manager PLN ULP Maros, Sadrach, mengatakan penggunaan perahu listrik tersebut bukan faktor tunggal dalam penetapan status UNESCO. Namun, kehadirannya memperlihatkan praktik wisata ramah lingkungan yang dapat dilihat langsung di kawasan tersebut.
“Bagus dikembangkan ini motor listrik di sini untuk ramah lingkungan,” ujar Sadrach.
Saat ini, penggunaan perahu listrik tidak hanya berasal dari PLN. Pemerintah Kabupaten Maros juga menyediakan lima unit sehingga total terdapat tujuh perahu listrik yang beroperasi di kawasan tersebut.
Bukan hanya untuk wisata
Perahu listrik juga dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari. Sunardi mengatakan akses sungai menjadi jalur penting bagi warga, termasuk untuk mengantar anak-anak sekolah.
“Anak-anak sekolah ini kan harus diantar tiap hari, karena kebetulan kita di sini aksesnya hanya naik perahu,” katanya.
Penggunaan listrik juga dinilai membantu masyarakat menghadapi keterbatasan pasokan BBM. Dengan biaya operasional yang lebih rendah, perahu listrik menjadi alternatif bagi pengemudi perahu untuk tetap beraktivitas.
Namun, pengembangan perahu listrik masih menghadapi kendala. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas perawatan dan ketersediaan suku cadang.
Sunardi mengatakan kerusakan komponen tertentu masih harus ditangani dengan mendatangkan suku cadang dari luar daerah.
“Kami harus beli dari luar. Mudah-mudahan ke depannya ada bengkel yang disiapkan di Rammang-Rammang,” ujarnya.
PLN merespons kebutuhan tersebut dengan menyiapkan dukungan lanjutan melalui program TJSL. Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pembangunan fasilitas perbaikan perahu listrik dan sistem pertukaran baterai atau battery swapping.
Baca Juga: Dari Sampah Plastik Jadi Rupiah, Cerita Warga Pesisir Makassar Bersama PLN
Baca Juga: Dorong Ekonomi Sirkular, PLN dan Rappo Olah 10,5 Ton Sampah Plastik di Makassar
Sadrach mengatakan pengembangan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan penggunaan kendaraan listrik di kawasan wisata.
Dengan demikian, transisi dari perahu BBM ke perahu listrik di Rammang-Rammang bukan sekadar perubahan alat transportasi. Peralihan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan karst sekaligus mempertahankan aktivitas ekonomi masyarakat yang hidup dari pariwisata.
Bagi kawasan yang dahulu dipertahankan warga dari ancaman eksploitasi, penggunaan energi listrik kini menjadi salah satu cara baru untuk menjaga agar pariwisata tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi daya tarik utamanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: