Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengangguran Capai Level Terendah, Prabowo dapat Catatan Positif di Ekonomi Semester I 2026

        Pengangguran Capai Level Terendah, Prabowo dapat Catatan Positif di Ekonomi Semester I 2026 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sejumlah indikator ekonomi nasional pada semester pertama 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mendapat perhatian positif dari kalangan akademisi. Pertumbuhan ekonomi, penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta perkembangan pasar keuangan dinilai menunjukkan perbaikan kondisi perekonomian nasional.

        Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru, Prof. Dr. Marihot Manullang, menilai kombinasi indikator tersebut mencerminkan perkembangan positif dalam perekonomian Indonesia. Menurut dia, capaian tersebut juga tidak terlepas dari arah kebijakan dan pelaksanaan program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

        Berdasarkan data BPS yang dirilis pada 5 Agustus 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada semester I 2025 yang tercatat 5,00 persen.

        Prof. Marihot menilai pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator makroekonomi yang menunjukkan perkembangan positif.

        "Capaian pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada semester pertama 2026 ini bukan angka yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari strategi eksekusi kebijakan yang konsisten. Dari perspektif manajemen strategi, angka ini menunjukkan bahwa Presiden Prabowo berhasil menerjemahkan visi menjadi program konkret, dan program konkret menjadi hasil yang bisa diukur," ujar Prof. Marihot dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (9/8).

        Selain pertumbuhan ekonomi, ia menyoroti perkembangan ketenagakerjaan. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen.

        Angka tersebut disebut sebagai tingkat pengangguran terendah sejak 1994. Prof. Marihot menilai penurunan pengangguran menjadi indikator yang secara langsung berkaitan dengan kondisi masyarakat.

        "Ini pencapaian yang sangat bersejarah. Tingkat pengangguran 4,65 persen adalah yang terendah sejak 1994. Dari sudut pandang Manajemen Sumber Daya Manusia, ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional mampu menyerap tenaga kerja secara masif," katanya.

        Ia juga mengaitkan perkembangan ketenagakerjaan tersebut dengan penurunan angka kemiskinan. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang atau 8,07 persen. Angka tersebut turun dibandingkan September 2025 yang mencapai 23,36 juta orang atau 8,25 persen.

        Menurut Prof. Marihot, penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan secara bersamaan menjadi sinyal positif mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat.

        "Ketika pengangguran turun ke titik terendah dalam 32 tahun, dan pada saat yang sama angka kemiskinan juga menurun, itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari strategi kebijakan yang berjalan searah dan saling menguatkan," ujarnya.

        Prof. Marihot juga menyoroti perkembangan pasar keuangan sebagai indikator lain yang perlu diperhatikan. Ia menyebut nilai tukar rupiah pada awal Agustus 2026 kembali menguat ke kisaran Rp17.978 per dolar AS, seiring dengan melemahnya indeks dolar AS di pasar global.

        Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 10,51 persen sepanjang Juli 2026. Menurutnya, penguatan tersebut menunjukkan adanya perbaikan sentimen di pasar keuangan.

        "Yang sangat menarik untuk kita cermati adalah tren pemulihan di pasar keuangan. Rupiah kembali menguat, IHSG mencatatkan penguatan double digit dalam satu bulan pada Juli 2026, bahkan menjadi salah satu yang terbaik di Asia," katanya.

        Ia menilai perkembangan pasar keuangan tersebut dapat menjadi salah satu cerminan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian. Namun, ia menekankan bahwa keberlanjutan kinerja ekonomi tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan kebijakan.

        Baca Juga: Soal Reshuffle Kabinet, Prabowo Disebut Belum Berencana

        Prof. Marihot kemudian menyebut kombinasi pertumbuhan ekonomi, penurunan pengangguran dan kemiskinan, serta perbaikan pasar keuangan sebagai modal untuk membangun optimisme terhadap perekonomian nasional.

        "Pertumbuhan ekonomi 5,45 persen, pengangguran 4,65 persen yang terendah dalam 32 tahun, kemiskinan menurun, Rupiah menguat, dan IHSG kembali bergerak positif. Kombinasi capaian ini seharusnya menjadi modal untuk menumbuhkan optimisme publik," ujarnya.

        Ia berharap perkembangan tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Menurutnya, konsistensi kebijakan dan pelaksanaan program pemerintah menjadi faktor penting untuk menjaga tren positif tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: