Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PTBA Ajukan BACBIE Jadi KEK untuk Percepat Hilirisasi Batu Bara

        PTBA Ajukan BACBIE Jadi KEK untuk Percepat Hilirisasi Batu Bara Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah mengajukan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE), kawasan industri seluas 585 hektare (Ha) di Muara Enim, Sumatera Selatan. Pengajuan KEK tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan proyek hilirisasi batu bara yang dijalankan perusahaan.

        Vice President Hilirisasi PTBA, Dahlia Muchtar, mengatakan transformasi BACBIE menjadi KEK diperlukan agar kawasan tersebut memperoleh berbagai fasilitas pendukung, termasuk insentif untuk mempercepat investasi hilirisasi.

        "Karena saat ini masih di kawasan industri lalu untuk pengajuan KEK-nya untuk support hilirisasi batubara. Supaya nanti dapat perlakuan khusus seperti tax holiday. Karena tentu nanti akan banyak barang-barang dari luar, itu support kenapa kita bangun BACBIE," ujar Dahlia dalam gelaran HIPMI, dikutip Selasa (11/8/2026).

        Menurut Dahlia, pengembangan BACBIE menjadi bagian dari strategi ganda (dual track strategy) PTBA untuk bertransformasi menjadi perusahaan energi kelas dunia pada 2030.

        "Di sana (BACBIE) sudah berdiri juga power plant 2 x 660 Megawatt, itu kerja sama antara HBAP (Huadian Bukit Asam Power) dengan Bukit Asam," katanya.

        Dalam kawasan tersebut, PTBA menjalankan sejumlah proyek hilirisasi batu bara, mulai dari coal to syngas, coal to dimethyl ether (DME), coal to artificial graphite untuk mendukung industri baterai, hingga produksi potasium humat untuk mendukung industri pupuk nasional.

        Dahlia menyebut proyek utama hilirisasi yang menjadi fokus perusahaan adalah coal to DME, yaitu pengolahan batu bara menjadi bahan substitusi LPG domestik. Tak hanya produk substitusi LPG, hilirisasi ini juga berpotensi  menghasilkan produk lain yakni metanol yang saat ini kebutuhannya diproyeksi terus meningkat ke depan.

        "Kalau kita melihat proyek ini ada dua produk yang sangat berpotensi, metanol dan DME. Karena metanol ini pun sebagai bahan dasar dari bahan kimia lanjutan seperti formaldehida, olefin itu berasal dari metanol," jelasnya.

        Untuk proyek tersebut, PTBA telah menyiapkan lahan khusus seluas 164 hektare di BACBIE. Sebagian besar lahan tersebut telah selesai dibebaskan.

        "Di situ khusus untuk Coal to DME ini kami menyediakan lahan sebesar 164 hektar dan semuanya 99% sudah bebas," ujarnya.

        PTBA menargetkan Final Investment Decision (FID) proyek Coal to DME dapat dilakukan pada 2027. Pabrik tersebut dirancang mengolah sekitar 7 juta ton batu bara per tahun melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan syngas, yang kemudian diolah menjadi metanol dan selanjutnya menjadi DME.

        Dahlia menjelaskan, kebutuhan LPG nasional yang masih bergantung pada impor menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan DME. Saat ini impor LPG Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 8 juta ton per tahun.

        "Jadi dari sisi energi tentu ini akan menjadi substitusi impor LPG yang setara dengan satu juta ton. Ini nantinya tentu kita akan menghemat devisa kita," katanya.

        Baca Juga: PTBA Perkenalkan BA Grow, Produk Hilirisasi Batubara untuk Pertanian

        Baca Juga: PTBA Pasok 7,78 Juta Ton Batu Bara ke PLN pada Semester I 2026

        Selain memperkuat ketahanan energi, proyek Coal to DME juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi melalui penghematan devisa dan perbaikan neraca perdagangan sekitar Rp145 triliun. Proyek dengan nilai investasi sekitar US$2,56 miliar tersebut juga diharapkan mendorong aktivitas industri di kawasan Tanjung Enim.

        Dari sisi sosial, proyek ini diperkirakan membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar. Pada tahap konstruksi, proyek diproyeksikan menciptakan sekitar 4 juta kesempatan kerja, sementara tahap operasional sekitar 1 juta lapangan kerja.

        "Potensi pemanfaatan batu bara ini tentu akan menjadikan kemandirian energi bagi Indonesia. Dengan adanya proyek ini akan menumbuhkan ekonomi dan akselerasi industri di kawasan sekitar kawasan industri Tanjung Enim," pungkas Dahlia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: