Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengamat: Indonesia Sekarang Cuma Ada 2 Partai, PDIP dan Non PDIP, PSI? Gak Lah

        Pengamat: Indonesia Sekarang Cuma Ada 2 Partai, PDIP dan Non PDIP, PSI? Gak Lah Kredit Foto: Tangkapan layar video YouTube Refly Harun
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Peta politik Indonesia kembali mendapat sorotan. Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai konstelasi politik nasional saat ini secara de facto telah mengerucut menjadi dua kekuatan besar, yakni PDIP dan kekuatan yang berada di luar PDIP.

        Pandangan tersebut disampaikan Connie ketika membahas arah politik Indonesia, termasuk menghadapi dinamika menuju 2029. Ia bahkan menepis anggapan bahwa PSI menjadi salah satu kekuatan utama dalam pembelahan politik tersebut.

        "Menurut gua, Indonesia sekarang secara de facto cuma ada dua partai: PDIP dan bukan PDIP. PSI? Nggak lah," katanya sembari tertawa dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Jumat (14/8/2026).

        Mengenai pilihan politik yang menurutnya perlu diambil masyarakat, Connie menyampaikan pandangan yang cukup tegas. 

        Baca Juga: Pemerintah Dibilang Gak Becus, Prabowo: Menteri Saya Kerja Keras sampai Pingsan

        "Gua bilang, pilih saja yang sekarang tidak sedang berada di dalam pemerintahan. That's the only option. Gua nggak mau mempersoalkan apakah itu namanya oposisi, penyeimbang, atau apa pun istilahnya," ujarnya.

        Connie kemudian menyinggung mandeknya pembahasan RUU Perampasan Aset. Menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu contoh ketika aspirasi masyarakat dinilai belum mampu diterjemahkan menjadi keputusan politik.

        "Kalau kita merasa gabungan pemerintahan saat ini tidak menghasilkan apa-apa, contohnya soal RUU Perampasan Aset, kenapa seolah-olah menyalahkan DPR yang lama?" kata dia.

        "Bukan cuma yang lama, tetapi memang tidak bisa memutuskan apa yang dimaui rakyat. Coba pikirkan bagaimana komposisi DPR-nya sekarang," lanjut Connie.

        Kritik Connie kemudian melebar pada kondisi Indonesia secara umum. Ia mengaku merasa prihatin melihat situasi bangsa saat ini hingga membuatnya teringat pada sejarah Kerajaan Majapahit.

        Baca Juga: Prabowo Respons soal Persaingan TNI vs Polri: Itu yang Kita Inginkan

        Connie mengatakan dirinya sempat mengunjungi sejumlah jejak Kerajaan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur, mulai dari Trowulan hingga Jolotundo. Kunjungannya itu disebut menjadi momen untuk melakukan refleksi terhadap kondisi Indonesia.

        "Saking sedihnya melihat Indonesia, gua pernah bilang sama sahabat gua, 'Yuk, kita ke Kerajaan Majapahit. Kita lihat kenapa Majapahit itu hancur.' Gua ke beberapa candi dan tempat yang dianggap sakral, lalu berdoa di sana," urainya.

        Menurut Connie, keruntuhan Majapahit bukan semata-mata disebabkan serangan dari luar. Ia justru melihat konflik internal dan persoalan kepemimpinan sebagai faktor penting yang perlu menjadi pelajaran bagi Indonesia.

        "Majapahit itu tidak kalah oleh Kubilai Khan atau serangan luar mana pun. Mereka runtuh karena konflik internal di dalamnya berantem sendiri dan pemimpinnya lupa mengurus rakyat," sambungnya.

        Refleksi tersebut bahkan ia lanjutkan melalui doa untuk Indonesia yang kini memasuki usia ke-81. Connie mengaku menyampaikan doa yang cukup keras terkait masa depan bangsa apabila konflik dan keserakahan justru terus menggerogoti Indonesia dari dalam.

        "Gua berdoa: 'Hai para raja Majapahit dan seluruh leluhur yang mencintai Indonesia. Kalau memang Indonesia di usianya yang ke-81 ini mesti bubar karena aksi saling bunuh dan kerakusan, ya sudah sekarang saja, jangan lama-lama. Supaya kita bisa cepat recover.' Jangan nunggu 300 tahun lagi, kasihan rakyatnya. Kerajaan sebesar Majapahit saja bisa ambruk, padahal usia Indonesia belum ada apa-apanya jika dibandingkan sejarah Majapahit," ungkapnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: