Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang Dunia Ketiga Sudah Terjadi, RI Jangan Umbar SDA Strategis

Perang Dunia Ketiga Sudah Terjadi, RI Jangan Umbar SDA Strategis Kredit Foto: Associated Press
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan Indonesia untuk tidak mengumbar sumber daya alam (SDA) strategis di tengah perang dunia ketiga yang menurutnya sudah berlangsung.

Guru Besar Saint Petersburg State University (SPbSU) itu menilai perang dunia ketiga saat ini terjadi dalam bentuk perebutan kendali ekonomi, bukan lagi pertempuran militer seperti sebelumnya.

"Gini, perang dunia ketiga tuh kalau dalam konteks seperti dulu — perang dunia satu, perang dunia dua yang jedar-jedor, hancur-hancuran — pasti enggak," ucapnya dalam kanal YouTube Refly Harun, dikutip Senin (15/6).

"Tapi perang dunia dengan tadi bagaimana ekonomi suatu negara dikuasai, bagaimana teknologi suatu negara diakali supaya tidak bisa berkembang, bagaimana resource dikendalikan oleh negara yang bukan pemilik resource — dan so on and so forth. Nah, itu sangat-sangat sudah terjadi," imbuhnya.

Ia mencontohkan bagaimana China masih berusaha dikontrol hanya karena penemuan-penemuan teknologinya. Connie menekankan Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika global ini.

Baca Juga: Iran Klaim Kemenangan Militer Besar Usai Sepakat Berdamai dan Akhiri Perang dengan AS

"Apalagi kalau kita lihat tentang apa yang Indonesia miliki. Saya tuh jauh-jauh hari ya — bisa dilihat di jurnal yang saya tulis di Valdai — saya bilang kita tuh pemilik raw material yang sangat strategik," ucapnya.

"Harusnya kita pun mengelolanya dengan sangat strategis. Dan enggak usah harus semua yang kita miliki itu diumbar sekarang, seolah kita mau mati besok gitu. Sampai habis-habisan," tandasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya