Pemerintah Jangan Sampai Terlambat, Gatot Nurmantyo Buka-bukaan Soal Kerusuhan Aceh sampai Papua
Kredit Foto: Instagram/Gatot Nurmantyo
Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkap persoalan yang menurutnya menjadi akar munculnya gejolak di sejumlah daerah, termasuk kerusuhan di Aceh dan Papua.
Menurut Gatot, berbagai persoalan tersebut tidak semestinya dilihat hanya dari peristiwa yang muncul di permukaan. Ia menilai terdapat masalah lebih mendasar berupa semakin lebarnya kesenjangan antara kebijakan pemerintah pusat dan kondisi kesejahteraan masyarakat di daerah.
Baca Juga: Di Balik Kemesraan Prabowo, Jokowi dan Gibran, Perbedaan Warna Politik Disinggung PAN
Gatot menilai pendekatan pemerintah dalam membaca gejolak daerah harus dilakukan secara lebih menyeluruh. Baginya, kerusuhan bukan sekadar persoalan keamanan, melainkan dapat menjadi akumulasi dari persoalan sosial, ekonomi dan politik yang berlangsung dalam waktu panjang.
Kondisi Aceh menjadi salah satu contoh. Menurut Gatot, ketegangan yang terjadi setelah insiden penurunan bendera merah putih tidak dapat dilepaskan dari persoalan yang telah dirasakan masyarakat sebelumnya.
Salah satu faktor yang disorot adalah penanganan dampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Gatot menduga ketidaksigapan pemerintah pusat menangani dampak bencana turut memperbesar kekecewaan masyarakat.
Situasi tersebut, menurut dia, diperberat oleh kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada pengurangan Transfer ke Daerah (TKD). Kondisi itu dinilai dapat membatasi kemampuan pemerintah daerah menggunakan kas daerah untuk menangani persoalan masyarakat.
"Urat nadi ekonomi di daerah itu adalah APBD. Ketika kas daerah dikurangi, urat nadi itu akan terhambat," kata Gatot dalam webinar Kamu Bertanya, Jenderal Gatot Menjawab, dikutip Kamis (20/8/2026).
Gatot menilai kerusuhan dalam wilayah itu tidak seharusnya hanya dipandang sebagai insiden keamanan yang terjadi pada 15 Agustus. Ia melihat peristiwa tersebut sebagai bentuk kemarahan masyarakat yang telah terakumulasi.
Menurutnya, pemerintah perlu memahami latar belakang sosial dan sejarah yang membuat masyarakat di sana memiliki sensitivitas kuat terhadap sejumlah persoalan. Apalagi Warga Aceh memiliki kontribusi besar pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Adapun persoalan serupa, masih terlihat di Papua. Konflik kekerasan antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut menunjukkan bahwa pendekatan keamanan saja belum tentu mampu menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung panjang.
Gatot mendorong pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat di daerah. Menurutnya, tuntutan maupun keresahan masyarakat perlu dipahami secara langsung agar penyelesaian tidak berhenti pada respons keamanan.
Gatot meminta pemerintah tidak menunggu hingga persoalan serupa muncul di daerah lain. Baginya, peristiwa tersebut harus dibaca sebagai peringatan agar pemerintah lebih cepat mendeteksi dan menyelesaikan persoalan di tingkat daerah sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.
Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah tidak cukup dilakukan dengan melihat satu kejadian secara terpisah. Akar persoalan harus ditelusuri secara komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat, kebijakan anggaran, hubungan pusat-daerah, hingga aspek sejarah.
Sebelumnya terjadi kericuhan terjadi dalam peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Sabtu (15/8/2026).
Kericuhan bermula ketika massa dari sejumlah elemen masyarakat hendak memasang bendera bintang bulan di salah satu tiang dalam kompleks masjid. Aparat gabungan tentara dan polisi yang berjaga kemudian melarang pemasangan bendera tersebut.
Menurut laporan, larangan tersebut diikuti tembakan peringatan ke udara. Situasi kemudian memanas dan sebagian massa mengejar personel tentara hingga kawasan depan Gedung DPRK Banda Aceh dan Simpang Kodim.
Massa juga dilaporkan melemparkan batu dan sejumlah benda ke arah aparat. Petugas kemudian merespons dengan tembakan ke udara dan penggunaan gas air mata.
Baca Juga: Dokter Tifa Soroti Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Mereka Menyiratkan Bahwa Ini Kembali Lagi ke P21
Bentrokan akhirnya mereda setelah personel tentara menjauh dari kejaran massa. Namun, sebagian massa masih bertahan di Masjid Raya Baiturrahman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: