Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kehormatan, Reputasi, dan Risiko di Balik Sosok CEO

        Kehormatan, Reputasi, dan Risiko di Balik Sosok CEO Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kehormatan membutuhkan orang lain untuk percaya; kebenaran tetap benar meski tak dipercaya.

        Chris Albrecht pernah menjadi salah satu orang paling berkuasa di industri hiburan Amerika. Di tangannya, HBO melahirkan The Sopranos, Sex and the City, dan Six Feet Under—serial yang membuat kita sadar bahwa manusia selalu lebih rumit daripada penampilannya di layar.

        Albrecht memang piawai membaca manusia. Serial-serial HBO dipenuhi tokoh yang memiliki rahasia, membuat kesalahan, berbohong, lalu berusaha hidup seolah semuanya baik-baik saja.

        Ironisnya, beberapa tahun kemudian, kehidupan Albrecht sendiri menghasilkan plot yang bahkan terasa terlalu dramatis untuk HBO.

        Pada dini hari 6 Mei 2007 di Las Vegas, seusai pertarungan Oscar De La Hoya melawan Floyd Mayweather Jr. yang disiarkan HBO, Albrecht terlibat pertengkaran dengan kekasihnya, Karla Jensen. Menurut laporan polisi yang diberitakan Los Angeles Times, seorang petugas melihat Albrecht memegang leher Jensen dan Albrecht kemudian ditangkap.

        Dalam beberapa menit, keadaan berbalik. Lelaki yang bertahun-tahun menentukan cerita apa yang layak muncul di jutaan layar televisi tiba-tiba kehilangan kendali atas satu cerita yang paling penting: cerita tentang dirinya sendiri.

        Albrecht kemudian mengakui kepada karyawan HBO bahwa ia kembali mengonsumsi alkohol setelah sekitar 13 tahun hidup dalam keadaan sadar. Ia mengambil cuti dan mengatakan akan kembali mengikuti Alcoholics Anonymous.

        Kalau cerita berhenti di sini, publik mungkin akan menganggapnya sebagai pemimpin hebat yang mengalami satu malam buruk.

        Sayangnya, masa lalu belum selesai bicara. Dan masa lalu punya kebiasaan buruk: ia sering datang ketika kita sudah telanjur merasa aman.

        Tak lama kemudian, Los Angeles Times mengungkap tuduhan lain dari 1991. Sasha Emerson, seorang eksekutif HBO yang pernah memiliki hubungan dengan Albrecht, menurut sumber yang mengetahui perkara tersebut, pernah menuduh Albrecht melakukan kekerasan terhadapnya. HBO menangani perkara itu secara internal dan sebuah penyelesaian sedikitnya US$400.000 dibayarkan.

        Sekarang ceritanya berubah. Pertanyaannya bukan lagi hanya, “Apa yang dilakukan Albrecht malam itu?”, melainkan, “Apa yang sudah diketahui HBO bertahun-tahun sebelumnya?”

        Di sinilah paradoks reputasi dimulai.

        Reputasi bukanlah siapa kita; reputasi hanyalah apa yang sejauh ini diketahui orang tentang kita.

        Perbedaannya kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam kehidupan. Seseorang dapat mempunyai reputasi hebat bukan hanya karena banyak hal baik yang dilakukannya, tetapi juga karena beberapa hal buruk belum diketahui siapa pun.

        Kita sering menganggap reputasi seperti kaca bening yang memperlihatkan karakter. Padahal, reputasi lebih mirip trailerfilm: bagian terbaik ditampilkan, sementara adegan yang merusak pemasaran biasanya tidak ikut masuk.

        Menariknya, prestasi Albrecht tidak lenyap ketika skandal tersebut terungkap. The Sopranos tetap hebat, Sex and the Citytetap memiliki penggemar, dan kontribusinya terhadap HBO tidak tiba-tiba terhapus.

        Yang berubah adalah cara publik membaca semuanya. Satu fakta baru tidak perlu mengubah masa lalu; ia cukup mengubah arti seluruh masa lalu.

        Ketika CEO Menjadi Aset Reputasi

        Paradoks ini bukan hanya milik Albrecht. Ia juga menjadi persoalan bagi perusahaan yang senang mengubah pemimpinnya menjadi selebritas.

        Ketika CEO sukses, perusahaan dengan senang hati memasang wajahnya di sampul majalah, panggung konferensi, dan wawancara televisi. Sang CEO bukan lagi sekadar pegawai. Ia menjadi cerita, simbol, bahkan alasan mengapa orang mempercayai perusahaan.

        Masalah muncul ketika cerita itu retak. Tiba-tiba perusahaan tergoda mengatakan bahwa perilaku sang CEO adalah “urusan pribadi”.

        Kalau perusahaan mau menikmati wajah CEO ketika masuk sampul majalah, perusahaan juga harus siap ketika wajah yang sama masuk halaman berita kriminal.

        Kita tidak bisa mengambil upside reputasinya lalu pura-pura tidak kenal ketika downside-nya datang. Semakin besar seorang pemimpin dijadikan aset reputasi, semakin besar pula ia menjadi risiko reputasi.

        Pada 9 Mei 2007, Time Warner meminta Albrecht meninggalkan HBO. Beberapa hari kemudian, ia mengajukan no contest atas misdemeanor battery dalam perkara Las Vegas dan menerima hukuman penjara yang ditangguhkan, masa percobaan, denda, serta konseling kekerasan domestik.

        Namun, muncul paradoks lain yang lebih dingin. Reputasi seorang manusia dapat runtuh tanpa membuat nilai sebuah perusahaan ikut runtuh.

        Masyarakat bertanya, “Seberapa buruk perbuatannya?” Investor cenderung bertanya, “Seberapa besar dampaknya terhadap bisnis?”

        Itulah perbedaan sederhana antara moralitas dan materialitas. Pasar tidak selalu menghukum dosa; pasar terutama menghukum konsekuensi ekonomi dari dosa tersebut.

        Hukum pun menghadapi dilema serupa. Jika setiap keburukan pribadi CEO harus diumumkan, laporan perusahaan bisa berubah menjadi tabloid. Namun, jika semuanya disebut urusan pribadi, perusahaan mendapat tirai yang terlalu nyaman untuk menyembunyikan risiko.

        Abril dan Olazábal (2010) membahas persoalan ini melalui konsep celebrity CEO. Semakin perusahaan menjual CEO sebagai alasan untuk mempercayai perusahaan, semakin sulit perusahaan kemudian mengatakan bahwa karakter dan keberlangsungan kepemimpinannya sama sekali bukan urusan investor.

        Ketika Prestasi Berubah Menjadi Kredit Moral

        Namun, pelajaran paling penting dari Albrecht sebenarnya lebih sederhana.

        Prestasi sering memberi seseorang kekuasaan, tetapi organisasi yang buruk diam-diam mengubah kekuasaan itu menjadi kredit moral.

        Kita mengenal logikanya: “Ya, dia memang bermasalah, tetapi lihat hasil kerjanya.”

        Kalimat tersebut terdengar pragmatis sampai kita sadar bahwa perusahaan sedang menciptakan dua buku aturan—satu untuk manusia biasa, satu lagi untuk mereka yang dianggap terlalu berharga untuk dihukum.

        Karena itu, ada satu pertanyaan sederhana untuk menguji budaya perusahaan:

        “Kalau yang melakukan hal yang sama adalah pegawai biasa, apakah perusahaan akan memberikan toleransi yang sama?”

        Jika jawabannya tidak, masalahnya sudah bukan Albrecht, CEO, atau satu malam buruk di Las Vegas. Masalahnya adalah budaya.

        Dan di sinilah cerita Albrecht akhirnya menjadi cerita tentang kita.

        Kita semua memiliki layar kecil tempat kita memproyeksikan versi terbaik diri: CV, LinkedIn, Instagram, presentasi, bahkan percakapan sehari-hari.

        Tidak ada yang salah dengan itu. Yang berbahaya adalah ketika kita mulai mengira apa yang terlihat di layar adalah seluruh manusia.

        Sebab reputasi hidup di depan layar, sementara karakter diuji di belakangnya. Reputasi adalah apa yang orang ketahui tentang kita; karakter adalah apa yang tetap kita lakukan ketika tidak ada tepuk tangan, kamera sudah mati, dan kita yakin tidak seorang pun akan tahu.

        Mungkin itulah ironi terbesar Chris Albrecht. Ia membantu HBO menjadi hebat dengan menunjukkan bahwa manusia jauh lebih rumit daripada penampilannya di layar, lalu kehidupannya sendiri membuktikan hal yang persis sama.

        Jadi, lain kali kita terpukau oleh CEO, selebritas, pemimpin, atau bahkan citra diri sendiri, jangan terlalu cepat mengira kita sudah melihat seluruh cerita. Trailer memang dibuat supaya kita membeli tiket—bukan supaya kita mengetahui seluruh film.

        Reputasi bukanlah kebohongan, tetapi juga bukan keseluruhan kebenaran. Kita menghabiskan hidup menjaga kehormatan di mata orang lain, padahal karakter ditentukan oleh apa yang kita lakukan ketika yakin tak seorang pun akan mengetahuinya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: