Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Server AI Nvidia Bakal Makin Mahal, Ini Biang Keroknya

        Server AI Nvidia Bakal Makin Mahal, Ini Biang Keroknya Kredit Foto: AFP/Justin Sulliavan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga server yang dilengkapi chip kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) Nvidia Corp. diperkirakan naik lebih dari 15% mulai awal 2027. Kenaikan tersebut terjadi di tengah lonjakan harga chip memori yang menjadi komponen penting dalam sistem AI.

        Mengutip laporan Bloomberg, sejumlah pelanggan besar Nvidia telah diberi tahu mengenai potensi kenaikan harga tersebut. Besaran penyesuaian akan berbeda, bergantung pada generasi chip Nvidia dan konfigurasi memori yang digunakan.

        Kenaikan harga diperkirakan berlaku pada sejumlah sistem yang menggunakan chip generasi terbaru Nvidia, termasuk Vera Rubin dan Grace Blackwell.

        Perusahaan yang memproduksi server Nvidia berdasarkan kontrak untuk operator pusat data besar seperti Microsoft, Google, dan Oracle disebut telah memberi tahu pelanggan mengenai potensi kenaikan tersebut.

        Kenaikan harga server AI Nvidia mencerminkan tekanan biaya dari meningkatnya harga komponen memori. Chip memori dynamic random-access memory (DRAM) menjadi komponen penting karena akselerator AI Nvidia membutuhkan kapasitas memori besar untuk menjalankan berbagai beban kerja AI.

        Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology menguasai sebagian besar produksi chip memori tersebut. Meski ketiganya telah meningkatkan kapasitas produksi, pasokan masih belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan yang dipicu pembangunan infrastruktur AI.

        Kondisi tersebut memperkuat posisi produsen memori dalam menentukan harga komponen yang sebelumnya relatif bersifat komoditas.

        Tekanan biaya juga mulai dirasakan perusahaan teknologi lainnya. Apple dan Qualcomm sebelumnya telah menyatakan kemungkinan menaikkan harga produk akibat keterbatasan pasokan chip.

        Di sisi lain, Nvidia masih berada dalam posisi dominan di pasar akselerator AI. Chip perusahaan menjadi komponen utama untuk membangun dan menjalankan sistem AI.

        Tingginya permintaan memungkinkan Nvidia menjual akselerator AI dengan harga puluhan ribu dolar per unit. Pasokan chip dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) juga masih terbatas dibandingkan tingginya permintaan.

        Kondisi tersebut membuat Nvidia mampu mempertahankan margin kotor sekitar 75%, meski biaya produksi dan kebutuhan komponen terus meningkat.

        Kenaikan harga server berpotensi menambah tekanan biaya bagi perusahaan teknologi yang tengah menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data AI.

        Baca Juga: Bocoran iPhone 18 Pro: Chip A20 Pro 2nm Diklaim Lebih Kencang dan Irit

        Baca Juga: Intel Siapkan Pendanaan hingga US$15 Miliar untuk Ekspansi Bisnis Chip

        Baca Juga: Microsoft Resmi Naikkan Harga Produknya Secara Global, Biaya Chip AI Jadi Biang Kerok

        Amazon, Microsoft, Google, dan Meta memang tengah mengembangkan chip AI mereka sendiri. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut masih mengandalkan Nvidia untuk memenuhi kebutuhan ekspansi pusat data.

        Kemampuan perusahaan teknologi mengurangi ketergantungan terhadap Nvidia juga akan dipengaruhi akses terhadap pasokan memori dari Samsung, SK Hynix, dan Micron.

        Selain biaya komponen, pembangunan pusat data AI saat ini menghadapi kendala lain, mulai dari penundaan proyek, keterbatasan tenaga kerja, kondisi pasar modal, hingga penolakan masyarakat terhadap pembangunan fasilitas pusat data.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: