Sarjito Calon Kepala Bursa Mineral Spill Tiga Tantangan Bursa Komoditas RI
Kredit Foto: (Istimewa)
Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito mengungkap tiga tantangan utama dalam pengembangan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Indonesia. Tantangan tersebut meliputi kedaulatan harga, integritas perdagangan dan potensi kebocoran ekonomi, serta integrasi dan kedalaman pasar.
Sarjito menyampaikan hal tersebut dalam proses fit and proper test di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (24/8/2026). Menurut dia, persoalan kedaulatan harga menjadi tantangan utama karena posisi Indonesia sebagai produsen sejumlah komoditas strategis belum diikuti kemampuan memengaruhi pembentukan harga.
“Bagaimana mungkin kita sebagai produsen atau penghasil timah terbesar di dunia, penghasil nikel terbesar di dunia (mohon maaf), tetapi harganya tidak ditentukan oleh negara kita sendiri, tetapi ditentukan di negara lain. Ada yang di London Metal Exchange, ada di Shanghai Futures Exchange, ada di Chicago Mercantile Exchange, dan juga di Singapura. Nah ini tentu saja menjadi masalah serius, kita penghasil terbesar tetapi tidak pernah bisa bahkan mempengaruhi harga,” ujar Sarjito dalam keterangannya di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (24/8/2026).
Sarjito memaparkan kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 8,75% pada 2025.
Indonesia juga menjadi produsen nikel terbesar dunia dengan porsi produksi mencapai 67%. Angka tersebut jauh di atas Filipina sebesar 7% dan Rusia 5%.
Selain nikel, Indonesia memiliki porsi besar dalam produksi sejumlah komoditas strategis. Produksi minyak sawit Indonesia mencapai 57%, dibandingkan Malaysia 25% dan Thailand 5%.
Pada komoditas lainnya, Indonesia menyumbang 21% produksi timah, 14% kobalt, dan 9% batu bara.
Tantangan kedua adalah integritas perdagangan dan potensi kebocoran ekonomi. Sarjito menyoroti risiko under-invoicing, baik dari sisi volume maupun harga, yang berpotensi mengurangi penerimaan negara.
“Rasanya bukan lagi menjadi diskusi, ini adalah fakta bahwa terdapat risiko under-invoicing baik dari sisi volume maupun harga. Dan ini sangat merugikan negara,” katanya.
Selain under-invoicing, Sarjito menyoroti risiko transfer pricing dalam transaksi dengan pihak berelasi di luar negeri. Menurut dia, transaksi yang tidak dapat dipantau secara optimal berpotensi memengaruhi penerimaan pajak negara.
Baca Juga: Sarjito Jadi Calon Tunggal Kepala Bursa Mineral, DPR Segera Gelar Fit and Proper Test
Baca Juga: OJK Lantik Henry Rialdi untuk Awasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
Baca Juga: Siapa M. Sarjito? Eks Deputi OJK yang Jadi Calon Tunggal Kepala Bursa Mineral
Tantangan ketiga berkaitan dengan integrasi dan kedalaman pasar. Sarjito menilai ekosistem perdagangan komoditas nasional masih terfragmentasi sehingga keterlibatan pelaku pasar perlu diperluas.
Selain itu, produk yang dapat diperdagangkan melalui bursa juga masih perlu dikualifikasi agar ekosistem perdagangan komoditas nasional dapat berkembang.
“Adapun tantangan industri mineral dan komoditas strategis itu cukup bervariasi. Pertama yang jelas adalah mengenai kedaulatan harga,” ujar Sarjito.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri