Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Setelah Batu Bara dan CPO, DSI Siap Perluas Pengawasan Ekspor Komoditas Strategis

        Setelah Batu Bara dan CPO, DSI Siap Perluas Pengawasan Ekspor Komoditas Strategis Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) membuka peluang memperluas cakupan tata kelola ekspor ke komoditas strategis di luar batu bara, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dan ferroalloy.

        Namun, Direktur Keuangan dan Treasury DSI, Sinthya Roesly, menegaskan perluasan mandat tersebut belum akan dilakukan secara tergesa-gesa. DSI masih mengkaji kesiapan sistem, efisiensi operasional, serta penerimaan pasar sebelum menambah komoditas baru.

        Saat ini, DSI berfokus membangun sistem pengawasan dan transparansi transaksi untuk tiga komoditas awal. Batu bara, CPO, dan ferroalloy dipilih karena nilai ekspornya mencapai hampir US$70 miliar per tahun.

        Sinthya mengatakan peluang memperluas komoditas sudah terbuka sejalan dengan mandat pemerintah untuk memastikan sumber daya alam Indonesia menghasilkan nilai yang lebih besar bagi masyarakat.

        “Nah, atas tiga komoditas itu tadi pertanyaannya apakah kemungkinan kita akan perluas ke depan? Kemungkinan ada, karena cita-cita pemerintah sebenarnya kan tujuan utamanya adalah bagaimana resources Republik Indonesia ini dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan kemakmuran masyarakat,” kata Sinthya dalam peluncuran DSI di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (24/8/2026).

        Ia mengatakan DSI telah mulai menganalisis kemungkinan penambahan komoditas. Akan tetapi, perusahaan belum mengungkap jenis komoditas yang dipertimbangkan maupun jadwal perluasan cakupan pengawasan ekspor.

        “Kami juga sudah mulai menganalisa, tapi secara bertahap tentu dengan realitanya dan kemudian bagaimana tadi efisiensi dan juga pragmatisme dari operasionalnya,” ujarnya.

        DSI dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis. Perusahaan mulai menjalankan mandatnya sejak 1 Juni 2026.

        Dalam tahap awal, DSI mengintegrasikan data transaksi ekspor batu bara, CPO, dan ferroalloy untuk memantau harga, volume, kualitas, klasifikasi barang, kapal pengangkut, negara tujuan, pembayaran, hingga repatriasi devisa hasil ekspor.

        CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut nilai ekspor batu bara mencapai sekitar US$30,35 miliar, CPO US$22,67 miliar, dan ferroalloy sekitar US$16,43 miliar.

        Baca Juga: DSI Siapkan Platform Ekspor 1 September, Skema Margin Masih Digodok

        Baca Juga: Eks Dirkeu PLN Sinthya Roesly Kini Kelola Keuangan Ekspor SDA di DSI

        “Batu bara sekitar 30,35 miliar US Dollar, kemudian CPO sekitar 22,67 miliar US Dollar, dan *ferroalloy* sekitar 16,43 miliar US Dollar,” kata Rosan.

        Menurut Sinthya, ekspansi cakupan komoditas akan tetap memperhatikan prinsip pelaksanaan yang terukur dan tidak mengganggu kelancaran perdagangan. DSI ingin memastikan sistem yang dibangun dapat diterima pasar sebelum mandatnya diperluas.

        “Ini nanti akan tentu secara bertahap akan kita pastikan bahwa eksekusi dari mandat ini betul-betul terukur dan juga dapat diterima oleh pasar. Jadi tidak gegabah begitu saja,” tandas Sinthya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: