Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Disorot Anwar Ibrahim, Ini Profil BWPT dan Jejak Peter Sondakh di Eagle High Plantations (BWPT)

        Disorot Anwar Ibrahim, Ini Profil BWPT dan Jejak Peter Sondakh di Eagle High Plantations (BWPT) Kredit Foto: Eagle High Plantations
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nama PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menjadi perhatian setelah Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan persoalan investasi Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (Felda) di perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.

        Anwar mengatakan telah mengirim surat kepada Prabowo untuk meminta perhatian pemerintah Indonesia atas persoalan investasi Felda di Eagle High yang saat ini masih berproses di pengadilan Indonesia.

        Menurut Anwar, persoalan tersebut berpotensi membuat Felda mengalami kerugian hingga RM2,5 miliar. Sementara itu, dari total investasi yang dipersoalkan, Felda diperkirakan hanya dapat memulihkan sekitar RM200 juta.

        Kasus tersebut sekaligus kembali menyoroti profil Eagle High Plantations dan sejarah kepemilikannya yang tidak terlepas dari kelompok usaha Rajawali milik pengusaha Peter Sondakh.

        Lantas, seperti apa profil BWPT dan bagaimana kaitannya dengan Peter Sondakh? Berikut rangkuman dari Warta Ekonomi, Rabu (26/8/2026):

        PT Eagle High Plantations Tbk merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan didirikan pada 2000 dengan nama PT Bumi Perdana Prima International. Nama perusahaan kemudian berubah menjadi PT BW Plantation pada 2007.

        Dua tahun kemudian, tepatnya pada 27 Oktober 2009, saham perseroan resmi tercatat dan diperdagangkan di BEI.

        Dalam menjalankan bisnisnya, Eagle High bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, pengolahan hasil perkebunan, serta produksi dan perdagangan produk sawit, terutama crude palm oil (CPO) dan palm kernel (PK).

        Kegiatan operasional perseroan tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

        Berdasarkan informasi perusahaan, Eagle High Plantations memiliki sekitar 87.000 hektare area perkebunan dengan kapasitas pengolahan sekitar 2,2 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun.

        Produk utama Eagle High Plantations adalah CPO dan inti sawit. Perseroan juga menyatakan bahwa produksi CPO-nya telah memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai bagian dari penerapan praktik perkebunan berkelanjutan.

        Jejak Peter Sondakh di BWPT

        Keterkaitan Eagle High Plantations dengan Peter Sondakh tidak dapat dipisahkan dari sejarah kepemilikan perusahaan oleh kelompok Rajawali.

        Peter Sondakh dikenal sebagai pengusaha yang berada di balik Rajawali Corpora. Dalam struktur kepemilikan BWPT, PT Rajawali Capital International tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sekitar 37,70%.

        Di sisi lain, terdapat FIC Properties Sdn Bhd yang menguasai sekitar 37% saham BWPT. FIC Properties merupakan entitas investasi yang berkaitan dengan Felda, lembaga pemerintah Malaysia yang bergerak dalam pengembangan dan pengelolaan sektor perkebunan.

        Dengan komposisi tersebut, dua pemegang saham utama BWPT secara bersama-sama menguasai hampir tiga perempat saham perseroan.

        Kepemilikan melalui PT Rajawali Capital International juga membuat nama Peter Sondakh tetap memiliki kaitan penting dengan struktur pemegang saham BWPT. Artinya, meskipun struktur kepemilikan Eagle High telah mengalami perubahan, jejak kelompok Rajawali tetap terlihat dalam susunan pemegang saham perseroan.

        Begini Struktur Pemegang Saham BWPT

        Berdasarkan data kepemilikan yang dipublikasikan Eagle High, terdapat dua pemegang saham strategis dengan porsi kepemilikan yang relatif berimbang.

        PT Rajawali Capital International menguasai sekitar 37,70% saham BWPT.

        Sementara itu, FIC Properties Sdn Bhd, yang merupakan anak usaha dari Federal Land Development Authority (Felda), memiliki sekitar 37% saham BWPT.

        FIC Properties masuk sebagai pemegang saham Eagle High setelah mengakuisisi 37% saham perusahaan tersebut. Nilai transaksi akuisisi tersebut dilaporkan mencapai sekitar US$505,4 juta atau setara Rp6,7 triliun.

        Jika digabungkan, PT Rajawali Capital International dan FIC Properties menguasai sekitar 74,70% saham Eagle High Plantations (BWPT).

        Adapun sekitar seperempat saham lainnya berada di tangan publik. Berdasarkan data tersebut, kepemilikan masyarakat mencapai sekitar 23,98%, sedangkan perseroan memiliki saham treasuri sekitar 1,28%.

        Dengan demikian, struktur kepemilikan BWPT tergolong cukup terkonsentrasi. Dua pemegang saham utama memiliki porsi yang sangat besar sehingga mempunyai pengaruh penting terhadap arah strategis perusahaan.

        Di satu sisi terdapat PT Rajawali Capital International yang memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha Peter Sondakh. Di sisi lain terdapat FIC Properties Sdn Bhd yang menjadi kendaraan investasi yang berkaitan dengan Felda.

        Felda dan Investasinya di Eagle High

        Masuknya Felda ke Eagle High Plantations menjadi bagian penting dalam sejarah kepemilikan BWPT.

        Melalui FIC Properties Sdn Bhd, Felda mengakuisisi sekitar 37% saham Eagle High Plantations yang sebelumnya dimiliki oleh kelompok Rajawali.

        Transaksi tersebut menjadi salah satu investasi Felda di sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia. Nilai akuisisinya dilaporkan mencapai US$505,4 juta atau sekitar Rp6,7 triliun.

        Baca Juga: PM Malaysia Minta Bantuan Prabowo Selesaikan Investasi Felda di BWPT Senilai Rp11 Triliun

        Baca Juga: Prabowo Bidik Swasembada Energi: Tak Cuma Minyak, LPG Juga Tak Boleh Impor

        Baca Juga: Hari Libur? Prabowo Tegaskan Menteri Tetap Wajib Kerja

        Namun, investasi tersebut kemudian menghadapi persoalan hukum yang berkepanjangan.

        Persoalan itu kembali menjadi sorotan setelah Anwar Ibrahim meminta bantuan Prabowo Subianto untuk membantu penyelesaian masalah investasi Felda di Eagle High Plantations.

        Anwar menyebut persoalan tersebut masih berproses di pengadilan Indonesia. Jika tidak segera diselesaikan, Felda berpotensi mengalami kerugian hingga RM2,5 miliar atau setara Rp11 triliun, sementara dana yang diperkirakan dapat dipulihkan hanya sekitar RM200 juta.

        Bisnis Sawit Eagle High Plantations (BWPT)

        Eagle High Plantations bukan hanya perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit. Perseroan menjalankan bisnis yang terintegrasi, mulai dari pengelolaan perkebunan, produksi TBS, hingga pengolahan TBS menjadi produk sawit seperti CPO dan palm kernel.

        Dengan area perkebunan sekitar 87.000 hektar dan kapasitas pabrik sekitar 2,2 juta ton TBS per tahun, kinerja Eagle High Plantations sangat berkaitan dengan kondisi industri kelapa sawit.

        Sejumlah faktor yang memengaruhi bisnis perseroan antara lain produktivitas tanaman, produksi TBS, harga CPO, biaya produksi, serta permintaan pasar.

        Wilayah operasional Eagle High yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua juga membuat perusahaan memiliki basis perkebunan yang cukup luas di Indonesia.

        Dengan demikian, Eagle High Plantations memiliki dua sisi yang menarik perhatian. Di satu sisi, perusahaan merupakan salah satu pemain di industri kelapa sawit Indonesia dengan bisnis dan aset perkebunan yang besar. Di sisi lain, struktur kepemilikannya memiliki sejarah yang melibatkan kelompok Rajawali yang dikaitkan dengan Peter Sondakh serta Felda melalui FIC Properties Sdn Bhd.

        Kini, nama BWPT kembali mencuat setelah persoalan investasi Felda mendapat perhatian langsung dari Perdana Menteri Malaysia dan dibawa ke level hubungan antara pemerintah Malaysia dan Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: