Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rudal AS Menipis Usai Perang Iran, Pentagon Disebut Butuh 3 Tahun Pulihkan Stok

        Rudal AS Menipis Usai Perang Iran, Pentagon Disebut Butuh 3 Tahun Pulihkan Stok Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Persediaan rudal Amerika Serikat disebut terus menipis setelah digunakan dalam perang melawan Iran. Kondisi tersebut bahkan disebut menjadi salah satu pertimbangan Washington ketika menunda serangan besar-besaran ke Iran.

        The New York Times melaporkan pada Juli lalu bahwa keputusan menunda serangan diambil setelah Presiden Donald Trump menggelar rapat terbatas bersama penasihat senior dan pejabat kabinetnya. Pejabat militer saat itu memperingatkan operasi berskala besar dapat menguras persediaan amunisi dan rudal pencegat Patriot.

        Persediaan tersebut dibutuhkan untuk melindungi pasukan dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pangkalan tersebut berada di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).

        Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dilaporkan mengatakan operasi militer besar masih memungkinkan dilakukan. Namun, operasi tersebut berisiko menguras persediaan amunisi pertahanan udara Komando Pusat AS.

        Kondisi ini membuat pemerintahan Trump kembali mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Peneliti senior Center for International Policy Negar Mortazavi menilai langkah tersebut muncul setelah kekuatan militer gagal menghasilkan kemenangan cepat.

        "Amerika Serikat kembali menggunakan tekanan ekonomi karena kekuatan militer gagal memberikan kemenangan cepat yang diharapkan," kata Mortazavi kepada Al Jazeera.

        Direktur Kebijakan National Iranian American Council (NIAC) Ryan Costello mengatakan kekuatan militer AS dan Iran memang sangat timpang. Namun, Iran disebut mampu memberikan dampak besar melalui penggunaan rudal dan drone.

        "Di atas kertas, AS dan Iran memiliki kekuatan militer yang sangat timpang," katanya.

        "AS menyebabkan banyak kerusakan dengan amunisinya, tetapi Iran juga melakukan hal yang sama dengan rudal dan drone-nya. Jadi sulit untuk menggambarkan perang hingga saat ini selain sebagai kesalahan yang membawa malapetaka," kata Costello.

        Pusat kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC juga menemukan adanya penurunan stok rudal pencegat AS. Pada akhir Juli, lembaga tersebut memperkirakan Pentagon membutuhkan setidaknya tiga tahun untuk mengembalikan persediaan ke tingkat sebelum perang.

        Gedung Putih membantah adanya kekurangan persediaan rudal. Namun, sejumlah analis menilai persoalan tersebut nyata meski bersifat sementara dan telah memaksa Pentagon mengalihkan sumber daya dari kawasan Indo-Pasifik.

        Salah satu aset yang terdampak adalah kapal induk AS. Pentagon mengerahkan USS George Washington dari Jepang untuk menggantikan USS Abraham Lincoln di Teluk Persia yang awaknya telah berada di laut lebih lama dari jadwal akibat perang.

        Sejumlah pangkalan utama AS di kawasan tersebut juga dilaporkan mengalami kerusakan atau tidak aman digunakan. Kondisi itu membuat jalur pasokan menjadi lebih panjang karena kapal harus mencari sumber logistik hingga Diego Garcia di Samudra Hindia.

        "Menurut penilaian saya, Angkatan Bersenjata AS mungkin telah kehilangan akses secara permanen ke 15 pangkalan di Teluk Persia," tulis pensiunan Jenderal Angkatan Darat AS Barry R McCaffrey di akun X.

        Baca Juga: Senator AS Desak Menhan Amerika Pete Hegseth Dipecat, Soroti Krisis di USS Abraham Lincoln

        Kepala NIAC Jamal Abdi menilai Washington mulai mengurangi intensitas konflik dengan kembali mengandalkan instrumen ekonomi. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan cara pemerintahan Trump untuk menurunkan eskalasi tanpa terlihat meninggalkan strategi tekanan terhadap Iran.

        "Sebenarnya, ini adalah cara bagi pemerintah untuk mengurangi intensitasnya seperti sebelum perang ini, tetapi menyajikannya sebagai kebijakan tekanan yang ditingkatkan."

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Bagikan Artikel: