Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Donald Trump Dihantam Isu Inflasi, Tingkat Kepuasan Publik AS Anjlok Jelang Pemilu Sela

Donald Trump Dihantam Isu Inflasi, Tingkat Kepuasan Publik AS Anjlok Jelang Pemilu Sela Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Donald Trump dalam menangani inflasi turun menjadi 19%. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam hasil jajak pendapat terbaru Marquette Law School.

Kepala Analis Data CNN Harry Enten mengatakan, net rating Trump terkait penanganan inflasi berada di angka minus 61. Menurut dia, angka tersebut merupakan yang terendah yang pernah tercatat untuk seorang presiden.

"Ini benar-benar net approval rating terburuk terkait inflasi untuk presiden mana pun," ujar Enten pada Kamis.

Penilaian negatif juga muncul dari pemilih Partai Republik. Net rating Trump terkait inflasi tercatat minus 95 di kalangan Demokrat, minus 74 di kalangan independen, dan minus 4 di kalangan Republik.

Di sisi lain, pasar prediksi Polymarket mencatat peluang Partai Demokrat menguasai DPR dan Senat dalam pemilu sela mencapai 60%. Angka itu naik dari 51% pada 1 September.

Lebih dari 12 juta dolar AS telah diperdagangkan dalam kontrak prediksi mengenai keseimbangan kekuasaan di Kongres tersebut. Para trader juga menempatkan peluang Demokrat menguasai Senat di angka 60%.

Sementara skenario Demokrat memenangkan Senat tetapi Partai Republik tetap menguasai DPR memiliki peluang kurang dari 1%.

Dalam jajak pendapat Marquette terbaru, 54% likely voters menyatakan akan memilih kandidat Demokrat, sedangkan 41% memilih kandidat Republik. Pada Juli, perbandingannya masih 51% berbanding 45%.

Trader Polymarket Prediksi The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga

Hasil jajak pendapat Marquette dirilis bersamaan dengan keputusan Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%.

Kenaikan tersebut disebut sebagai yang pertama sejak 2023. Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan The Fed juga memperkirakan masih akan ada setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Di Polymarket, para trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada tahun ini mencapai 81%.

Pasar saham AS sempat merespons negatif keputusan The Fed. Indeks S&P 500 turun 0,44% pada Rabu, tetapi kemudian naik sekitar 1,1% pada perdagangan Kamis setelah imbal hasil obligasi AS dan harga minyak melemah.

SPDR S&P 500 ETF Trust (NYSE:SPY), yang mengikuti pergerakan S&P 500, juga ikut menguat.

Nasdaq Composite juga mengalami pergerakan serupa. Indeks yang didominasi saham teknologi itu nyaris tidak berubah pada Rabu sebelum naik sekitar 1,6% pada Kamis.

Kenaikan tersebut turut mendorong Invesco QQQ Trust (NASDAQ:QQQ), yang mengikuti indeks Nasdaq-100.

Kebijakan Tarif Dinilai Menambah Tekanan Harga

Survei Cato Institute dan Morning Consult yang dirilis Kamis menunjukkan 75% pemilih terdaftar mengatakan kebijakan tarif akan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan mereka pada pemilu sela atau midterms.

Sebanyak 74% responden menilai kebijakan tarif pada era Trump telah menyebabkan kenaikan harga. Pandangan serupa juga muncul di kalangan pemilih Republik, dengan 66% responden dari kelompok tersebut mengatakan tarif membuat harga barang naik.

Di antara pemilih yang mengatakan kebijakan tarif akan memengaruhi pilihan mereka dalam pemilu sela, 55% menyatakan berencana memilih kandidat Kongres dari Partai Demokrat. Sementara 36% lainnya memilih kandidat Republik.

Hasil tersebut berbeda dengan situasi menjelang pemilu 2024. Dalam jajak pendapat ABC News/Ipsos pada Oktober 2024, pemilih terdaftar lebih mempercayai Trump dibandingkan Kamala Harris dalam menangani inflasi, dengan selisih tujuh poin.

Dalam jajak pendapat Marquette terbaru, Partai Demokrat justru unggul 11 poin atas Republik dalam penilaian terkait penanganan inflasi dan biaya hidup.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat