Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Awas!! Ini Bahaya Terlalu Andalkan AI untuk Investasi

        Awas!! Ini Bahaya Terlalu Andalkan AI untuk Investasi Kredit Foto: Cloudera
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) menyarankan investor untuk tidak terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat mengambil keputusan investasi.

        WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan, tren investor mengandalkan chatbot seperti ChatGPT untuk menilai kondisi ekonomi maupun menentukan keputusan investasi kian marak. Namun, ia mengingatkan informasi yang diberikan AI belum tentu menggunakan data terkini.

        “Banyak investor-investor hanya ngetik di Chat GPT kondisi ekonomi kita seperti apa, gitu. Lalu sama Chat GPT mereka nge-rate dari investor. Nah sebenarnya untuk smart investor, itu sebenarnya untuk saat ini agak menghindari yang namanya bertanya terhadap AI,” ujar Lanjar dalam acara Wealth XPO CIMB Niaga di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

        Ia menyarankan, investor tetap harus membaca market report dan market research report yang diterbitkan perbankan maupun perusahaan sekuritas. Investor juga dapat menggunakan sumber data pasar dan ekonomi yang menyediakan informasi terkini.

        “Kita sarankan agar tetap membaca market report, market research report dari beragam institusi. Mau itu bank, ataupun sekuritas. Masih tetap membaca,” katanya.

        Lanjar menjelaskan, perbedaan mendasar antara data AI dan riset analis terletak pada kebaruan sumber. AI cenderung mengandalkan data lama atau informasi yang sudah tersedia di internet, termasuk data dari tahun-tahun sebelumnya. Sementara riset analis umumnya bersumber dari data pasar real-time seperti Bloomberg terminal, yang kemudian diolah dan diproyeksikan langsung oleh ekonom.

        “Untuk membedakan data AI dengan data analis, itu biasanya kalau AI, dia datanya itu lebih banyak yang menggunakan data-data sebelumnya, atau data-data tahun lalu,” jelasnya.

        Baca Juga: Raup Investasi Rp 3 Triliun, PSEL Kota Bekasi Target Rampung 2028

        Baca Juga: Investasi AI Indonesia Melonjak, Tapi Kematangan Implementasi Masih Rendah

        Baca Juga: Investasi AI Indonesia Melonjak, Tapi Kematangan Implementasi Masih Rendah

        Ia menambahkan, investor dapat membandingkan informasi dari AI dengan data yang tersedia melalui platform pasar maupun laporan riset.

        “Tapi kalau teman-teman lihat dari research report, mereka sudah ada nyatanya, biasanya menggunakan Bloomberg, terminal, lalu di forecast oleh ekonomisnya,” ujar Lanjar.

        Sebagai informasi, CIMB Niaga juga merilis proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mencapai level 8.000 pada akhir 2026 dalam skenario paling optimistis. mentara itu, skenario dasar menempatkan IHSG di level 7.500 dan skenario konservatif di level 7.000.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: