Return Tinggi Bikin FOMO? OCBC Ungkap Cara Agar Investor Tak Salah Pilih
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Kemudahan berinvestasi kini membuat masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk mengembangkan dana. Namun, banyaknya pilihan juga bisa menjadi jebakan jika keputusan investasi hanya didasarkan pada tren atau iming-iming keuntungan tinggi.
Wealth Management Advisory Head OCBC Diamond Stole mengingatkan investor agar tidak terburu-buru masuk ke suatu instrumen hanya karena melihat potensi return yang menarik. Sebab, semakin besar peluang keuntungan, biasanya semakin besar pula risiko yang harus siap ditanggung.
Menurut dia, salah satu kesalahan yang masih kerap dilakukan investor adalah melihat investasi hanya dari sisi keuntungan tanpa memahami risiko yang menyertainya.
“Yang penting jangan terjebak dengan FOMO-nya dari investasi. Kadang kita ngelihatnya cuma dari sisi return ini paling bagus, lalu kita masuk ke produk ini, tapi ternyata risiko di belakangnya lebih tinggi lagi,” ujar Diamond di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Karena itu, sebelum memilih produk investasi, investor perlu melalui sejumlah tahapan. Langkah pertama adalah mengenali profil risiko. Setiap orang memiliki kemampuan dan toleransi yang berbeda dalam menghadapi potensi kerugian. Ada investor yang cenderung konservatif, moderat, maupun agresif.
Profil tersebut kemudian menjadi pertimbangan ketika memilih instrumen investasi. Produk dengan tingkat risiko tinggi belum tentu cocok untuk semua orang, meski menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar.
Setelah memahami profil risiko, investor perlu menentukan tujuan keuangan. Investasi untuk kebutuhan jangka pendek tentu membutuhkan strategi berbeda dibandingkan investasi untuk pendidikan anak atau persiapan masa pensiun.
Tujuan tersebut juga akan menentukan berapa lama dana akan ditempatkan dan seberapa besar risiko yang masih bisa ditoleransi.
Tahap berikutnya adalah melihat kondisi keuangan secara menyeluruh. Investor perlu menghitung aset yang dimiliki, kewajiban atau utang, hingga kemampuan menyisihkan dana secara rutin untuk investasi.
“Berikutnya lagi, kita tahu profil keuangan kita seperti apa. Jadi profil keuangan kita ini kita bisa lihat ternyata kita punya aset sekian, punya hutang sekian, kita mampunya berapa sih setiap bulan untuk bisa investasi? Itu akan menentukan,” kata Diamond.
Dari sana, investor baru dapat menyusun strategi dan portofolio. Pemilihan instrumen tidak perlu dilakukan sekaligus, melainkan bisa disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Diversifikasi juga dapat menjadi bagian dari strategi tersebut agar dana tidak hanya ditempatkan pada satu jenis instrumen.
Baca Juga: OCBC Goda Investor Pemula, Investasi Bisa Dimulai Cuma Rp10.000
Baca Juga: OCBC Dorong Ekonomi Sirkular, 50 UKM Diajak Ciptakan Produk Upcycle
Baca Juga: OCBC NISP Rogoh Rp201 Miliar untuk Akuisisi 20% Great Eastern Life Indonesia
Namun, proses investasi tidak berhenti setelah portofolio terbentuk. Kondisi keuangan, tujuan, maupun situasi pasar dapat berubah sehingga portofolio perlu dievaluasi secara berkala.
“Yang terakhir, kita lakukan peninjauan berkala. Jadi mungkin setiap tiga bulan, enam bulan sekali bisa melakukan peninjauan berkala,” ujar Diamond.
Ia menilai investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya karena mengikuti rekomendasi orang lain atau melihat sebuah produk sedang mencatatkan return tinggi.
Alih-alih mengejar tren, investor perlu memastikan setiap keputusan sesuai dengan profil risiko, tujuan, dan kemampuan keuangannya sendiri.
“Yang paling penting, kita bisa ikutin step by step-nya,” kata Diamond.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: