Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mourinho Buka Kotak Pandora Ballon d'Or: Ada Unsur Politik di Balik Penghargaan Pemain Terbaik?

        Mourinho Buka Kotak Pandora Ballon d'Or: Ada Unsur Politik di Balik Penghargaan Pemain Terbaik? Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jose Mourinho kembali membuat perdebatan soal Ballon d'Or memanas. Pelatih Real Madrid itu terang-terangan mempertanyakan proses penentuan pemenang dan bahkan menyebut kemungkinan adanya unsur politik dalam penghargaan pemain terbaik dunia tersebut.

        Mourinho menilai Ballon d'Or seharusnya diberikan kepada pemain yang benar-benar menjadi yang terbaik secara individu, bukan sekadar kepada pemain yang kebetulan meraih trofi terbesar bersama klub atau tim nasional. Menurutnya, kemenangan di Liga Champions atau Piala Dunia tidak otomatis membuat seorang pemain layak mendapatkan penghargaan tersebut.

        "You cannot give the Ballon d'Or to a player simply because he won the Champions League or the World Cup," ujar Mourinho dalam konferensi pers jelang pertandingan Real Madrid melawan Malaga.

        Menurut Mourinho, jika keberhasilan memenangkan Liga Champions dijadikan ukuran utama, penghargaan tersebut semestinya diberikan kepada sosok yang bertanggung jawab atas keberhasilan tim. Ia bahkan menyebut Luis Enrique sebagai figur yang layak mendapatkan penghargaan jika ukuran yang digunakan adalah kesuksesan PSG di kompetisi Eropa.

        Begitu juga dengan Timnas Spanyol. Jika Piala Dunia menjadi faktor penentu utama, Mourinho menilai penghargaan tersebut lebih tepat merepresentasikan pelatih Luis de la Fuente atau tim nasional Spanyol secara keseluruhan.

        "Jika kita ingin memberi penghargaan kepada juara Liga Champions, maka berikan kepada Luis Enrique. Untuk tim nasional Spanyol, berikan kepada De la Fuente," kata Mourinho.

        Pandangan tersebut kemudian mengarah pada kritik Mourinho yang lebih sensitif. Ia menyebut Ballon d'Or mungkin tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan politik dalam proses penentuannya.

        "Maybe Ballon d'Or is also something political. And if politics gets involved, I don't like it so much," ujar Mourinho.

        Pernyataan tersebut menjadi bagian paling kontroversial dari kritik Mourinho karena ia tidak hanya memperdebatkan kriteria teknis penghargaan. Mourinho juga mempertanyakan apakah faktor di luar performa sepak bola ikut memengaruhi bagaimana seorang pemain dinilai dalam perebutan Ballon d'Or.

        Meski begitu, Mourinho tidak memberikan bukti mengenai adanya intervensi atau manipulasi politik dalam proses voting. Pernyataannya lebih berupa pandangan dan kecurigaan terhadap kemungkinan pengaruh politik dalam penghargaan tersebut.

        Mourinho kemudian menjelaskan standar yang menurutnya lebih layak digunakan. Baginya, Ballon d'Or harus diberikan kepada pemain yang mampu meninggalkan warisan besar dan menjadi sosok yang akan dirindukan setelah kariernya berakhir.

        Ia menyebut sejumlah legenda seperti Diego Maradona, Ronaldinho, Ronaldo Nazario, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Zinedine Zidane, hingga Lothar Matthäus sebagai contoh pemain yang menurutnya memiliki status tersebut.

        "Saya merindukan Maradona, Ronaldinho, Ronaldo, Cristiano, Messi, Zizou, Lothar Matthäus. Saya merindukan orang-orang ini," kata Mourinho.

        Dalam konteks perebutan Ballon d'Or 2026, pandangan Mourinho juga mengarah kepada pemain Real Madrid. Ia menyebut pemain terbaik dunia ada di klubnya dan menegaskan pemenang penghargaan tidak harus berasal dari PSG atau Timnas Spanyol.

        Pernyataan tersebut secara kuat mengarah kepada Kylian Mbappe. Penyerang asal Prancis itu disebut Mourinho sebagai pemain yang secara individu telah membuat sejarah pada musim panas 2026. Mbappe menjadi pencetak gol terbanyak La Liga, Liga Champions, dan Piala Dunia 2026 meski gagal memenangkan trofi utama bersama klub maupun negaranya.

        Baca Juga: Uji Coba Timnas Indonesia U-20 di Thailand Selesai, Nova Arianto Kini Dikejar Waktu

        Posisi Mourinho menjadi menarik karena Mbappe harus bersaing dengan pemain dari PSG dan Timnas Spanyol yang memiliki modal trofi lebih kuat. PSG berstatus juara Eropa, sementara Spanyol datang sebagai juara dunia.

        Mourinho seolah ingin mengembalikan perdebatan Ballon d'Or kepada pertanyaan paling dasar: siapa pemain terbaik secara individu, bukan siapa yang memenangkan trofi paling bergengsi.

        Kritik Mourinho pun membuka kembali perdebatan lama mengenai bobot prestasi tim dalam penghargaan individu. Di satu sisi, keberhasilan meraih Liga Champions atau Piala Dunia menunjukkan kontribusi pemain dalam level tertinggi. Namun di sisi lain, performa individu tetap menjadi alasan utama mengapa penghargaan tersebut disebut sebagai penghargaan pemain terbaik dunia.

        Dengan pernyataannya, Mourinho tidak hanya sedang mendukung Mbappe. Ia juga menantang cara publik melihat Ballon d'Or dan mempertanyakan apakah penghargaan tersebut masih sepenuhnya mencerminkan kualitas pemain di lapangan atau telah dipengaruhi faktor lain.

        Kini, sorotan bukan hanya tertuju kepada siapa yang akan memenangkan Ballon d'Or 2026. Pernyataan Mourinho membuat proses pemilihan dan kriteria penghargaan itu sendiri kembali menjadi bahan perdebatan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: