Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jokowi: Tak Boleh Mentang-Mentang Kita Punya Kekuasaan Kemudian Kita Pakai untuk Menjatuhkan Orang

        Jokowi: Tak Boleh Mentang-Mentang Kita Punya Kekuasaan Kemudian Kita Pakai untuk Menjatuhkan Orang Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para pemimpin agar tidak menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk menekan atau menjatuhkan orang lain.

        Menurutnya, seseorang yang memiliki kekuatan seharusnya tidak menggunakan kelebihan tersebut untuk menyakiti, menjatuhkan, atau bahkan membinasakan pihak lain.

        Baca Juga: Habib Rizieq Komentari Demo 27 Agustus: Sesuai Tidak dengan Keinginan Kita?

        “Yang pertama lamun siro sekti ojo mateni,” kata Jokowi, dikutip Senin (31/8/2026).

        Ia kemudian menjelaskan bahwa makna filosofi tersebut berkaitan dengan cara seseorang menggunakan kekuatan yang dimilikinya.

        “Meskipun kamu sakti jangan suka menjatuhkan atau membunuh,” ujarnya.

        Jokowi menegaskan, kekuasaan yang besar seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana dalam mengambil keputusan. Bukan sebaliknya, merasa memiliki keleluasaan untuk bertindak sesuka hati.

        “Enggak boleh mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Mboten, itu hal yang tidak baik,” katanya.

        Nasihat Jokowi tidak hanya ditujukan kepada pemegang jabatan tinggi. Ia juga mengingatkan para pemimpin di tingkat masyarakat agar tidak merasa lebih tinggi hanya karena memiliki posisi tertentu.

        Jokowi memberikan contoh seorang lurah yang menggunakan jabatannya untuk bersikap keras kepada warga.

        “Termasuk Bapak, Ibu semuanya juga jangan seperti itu. Mentang-mentang jadi lurah kemudian ke rakyatnya bakbuk bakbuk bakbuk,” ucapnya.

        Menurut Jokowi, posisi sebagai pemimpin justru menuntut seseorang untuk menjaga perilaku dan tutur kata ketika berhadapan dengan masyarakat.

        Ia menilai cara berbicara yang kasar tidak semestinya menjadi kebiasaan seorang pemimpin, terlebih ketika berkomunikasi dengan rakyat yang berada di bawah tanggung jawabnya.

        “Sering ngendiko banter, sering ngendiko kasar ke rakyat enggak boleh,” tegas Jokowi.

        Bagi Jokowi, semakin besar kewenangan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara tepat.

        Baca Juga: PDIP ke Ketum Projo Budi Arie: Kalau Tidak Puas, Maka Salurkan Beragam Kritik Itu dan Kami Akan...

        Jokowi pada akhirnya mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus mampu mengendalikan diri. Jabatan seharusnya digunakan untuk melayani dan menjalankan amanah, bukan menjadi pembenaran untuk bertindak kasar kepada rakyat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: