Kredit Foto: Istimewa
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) buka suara mengenai kerasnya dinamika politik yang pernah dihadapinya. Di tengah perbedaan pilihan dan sikap politik, mantan presiden itu mengaku menjadi salah satu pihak yang kerap menerima fitnah, hinaan hingga cacian dari orang-orang yang tidak menyukainya.
Menurut Jokowi, situasi pro dan kontra merupakan sesuatu yang sulit dihindari dalam politik. Setiap tokoh maupun kebijakan akan selalu mendapatkan respons berbeda dari masyarakat.
Baca Juga: Jokowi: Kekuasaan Itu Hanya Sementara, Hanya Sampiran
“Yang kedua yang namanya dalam dunia politik itu yang pro dan kontra itu biasa,” kata Jokowi, dikutip Senin (31/8/2026).
Ia kemudian menggambarkan bagaimana perbedaan pilihan dapat memunculkan respons yang beragam. Ada masyarakat yang menyukai seorang tokoh, tetapi ada pula yang tidak memiliki pandangan serupa.
“Ada yang setuju, ada yang tidak, ada yang senang, ada yang tidak senang. Biasa,” ujarnya.
Namun, pembicaraan politikus itu kemudian mengarah pada pengalaman pribadinya. Ia mengakui bahwa perbedaan sikap politik tidak hanya berhenti pada dukungan atau penolakan, tetapi dalam sejumlah situasi berkembang menjadi serangan verbal terhadap dirinya.
Jokowi merespons pernyataan seorang kiai yang sebelumnya menyinggung banyaknya fitnah serta hinaan dalam kehidupan politik. Ia membenarkan bahwa dirinya juga merasakan hal tersebut secara langsung.
“Jadi yang disampaikan Gus Sufantari. Pak Kiai betul bahwa banyak fitnah, banyak hinaan, banyak cacian yang sampai ke saya ya karena ada yang senang, ada yang enggak senang tadi,” tutur Jokowi.
Meski demikian, ia tidak menggambarkan perbedaan politik sebagai sesuatu yang harus dihapuskan. Sebaliknya, ia menganggap keberadaan kelompok yang pro dan kontra sebagai sesuatu yang wajar.
“Dan biasa dalam politik,” katanya.
Pesan Jokowi justru diarahkan pada bagaimana masyarakat menyikapi perbedaan tersebut. Menurut dia, perbedaan pandangan seharusnya tidak otomatis berubah menjadi permusuhan, apalagi menjadi alasan untuk menyampaikan perkataan yang menyakiti pihak lain.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tetap mempertimbangkan etika ketika menyampaikan pendapat. Kritik dan ketidaksetujuan, menurut pesan yang disampaikannya, tetap dapat disampaikan tanpa harus menggunakan kata-kata buruk.
“Tapi mbok yo ojo ngono ngoten lèn,” ujar Jokowi.
Baca Juga: Jokowi: Tak Boleh Mentang-Mentang Kita Punya Kekuasaan Kemudian Kita Pakai untuk Menjatuhkan Orang
Baginya, perbedaan merupakan bagian dari politik. Namun, cara menghadapi perbedaan tetap menjadi pilihan masing-masing orang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: