Bos APINDO Ungkap Tantangan Baru CMO: Marketing Harus Buktikan Omzet
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani menilai peran Chief Marketing Officer (CMO) di perusahaan kini semakin berat. Seorang CMO tidak lagi cukup dinilai dari banyaknya kampanye yang dijalankan atau seberapa luas jangkauan pemasaran yang berhasil dicapai.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin cepat, aktivitas marketing dituntut memberikan kontribusi yang lebih nyata terhadap pertumbuhan perusahaan.
Shinta bahkan memiliki plesetan untuk menggambarkan perubahan tuntutan tersebut. Menurutnya, CMO kini bukan sekadar Chief Marketing Officer, tetapi "Chief Mana Sih Omsetnya".
"Kadang-kadang saya terpikir CMO ini bukan cuma Chief Marketing Officer. Saya punya penamaan baru, sedangkan CMO itu adalah Chief Mana Sih Omsetnya," ujar Shinta dalam acara BEST CMO Award 2026 di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana ukuran keberhasilan marketing mulai bergeser. Jika sebelumnya keberhasilan pemasaran banyak dikaitkan dengan kampanye, brand awareness, reach, maupun engagement, kini pertanyaan yang muncul semakin dekat dengan hasil akhir bisnis.
Shinta mengatakan perusahaan saat ini menghadapi tantangan berupa growth gap, yakni kesenjangan antara besarnya aktivitas yang telah dilakukan dengan pertumbuhan yang berhasil dihasilkan.
Menurut dia, semakin besar investasi yang dikeluarkan untuk marketing tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan yang lebih besar. Hal yang menentukan justru seberapa besar nilai tambahan yang mampu dihasilkan dari setiap investasi tersebut.
"Bukan hanya how much are we investing, but how much incremental growth every investment creates," kata Shinta.
Karena itu, CMO perlu melihat setiap keputusan marketing sebagai bagian dari keputusan untuk menciptakan pertumbuhan. Penentuan prioritas portofolio, segmentasi pelanggan, pemilihan kanal, alokasi media, hingga investasi merek tidak lagi cukup diperlakukan sebagai aktivitas pemasaran rutin.
Semua keputusan tersebut harus dikaitkan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan nilai bisnis.
"Bagi seorang CMO, ini berarti setiap keputusan mulai dari penentuan prioritas portfolio, segmentasi pelanggan, channel mix, media allocation, brand investment, dan lainnya itu harus semakin diberlakukan sebagai keputusan alokasi growth capital. Bukan saja hanya sekadar aktivitas pemasaran," ujarnya.
CMO Dituntut Menjawab Hasil
Perubahan tersebut membuat CMO menghadapi tuntutan akuntabilitas yang semakin besar. Menurut Shinta, perusahaan kini tidak hanya ingin mengetahui berapa banyak aktivitas marketing yang telah dilakukan, tetapi juga hasil yang dihasilkan bagi bisnis.
CMO harus mampu menghubungkan investasi pemasaran dengan permintaan, nilai pelanggan, pendapatan, hingga pertumbuhan perusahaan.
"CMO semakin ditanya, apa yang Anda hasilkan? Bukan sekadar berapa banyak kampanye yang dijalankan atau seberapa besar reach yang bisa dihasilkan, tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap demand, customer value, revenue, dan pertumbuhan bisnis," tutur Shinta.
Dengan perubahan tersebut, marketing tidak lagi bisa berdiri sebagai fungsi yang terpisah dari tujuan bisnis. Aktivitas pemasaran harus memiliki hubungan yang jelas dengan bagaimana perusahaan mendapatkan pelanggan, meningkatkan nilai pelanggan, mempertahankan pelanggan, dan menciptakan pendapatan.
Baca Juga: Kejar Pertumbuhan Industri 5,86%, Kemenperin Minta Tambahan Rp1,72 Triliun
Baca Juga: Dari Kehilangan Harta di Krisis 1998 hingga IPO, Ishak Chandra Ungkap Cara Bangkit Jadi Pengusaha
Baca Juga: Bahlil Desak Pengusaha Percepat Pengembangan PLTP, Konsesi Jangan Mangkrak
Shinta melihat perubahan mandat tersebut sebagai bagian dari transformasi yang lebih besar dalam posisi seorang pemimpin marketing.
Menurut dia, CMO ke depan tidak cukup hanya menjadi pengelola aktivitas pemasaran. Perannya semakin mengarah menjadi perancang arsitektur pertumbuhan perusahaan.
"Growth is not a function of activity, growth is a function of advantage," ujar Shinta.
Dengan demikian, pertanyaan "Chief Mana Sih Omsetnya?" bukan sekadar lelucon untuk menggambarkan tekanan terhadap CMO. Plesetan tersebut mencerminkan perubahan mendasar dalam cara perusahaan melihat marketing: dari fungsi yang menghasilkan aktivitas menjadi fungsi yang harus mampu membuktikan kontribusinya terhadap pertumbuhan.
Pada akhirnya, semakin besar anggaran dan sumber daya yang dialokasikan untuk marketing, semakin besar pula tuntutan agar investasi tersebut menghasilkan pertumbuhan yang dapat diukur.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan