Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Penasihat Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, menyoroti fenomena maraknya kasus korupsi di tubuh aparat penegak hukum.
Secara khusus, ia menyinggung fenomena "saling tangkap" yang terjadi antara oknum di kepolisian dan kejaksaan.
Rizieq menyoroti beberapa waktu lalu publik disuguhkan dengan pemandangan di mana oknum pejabat saling membongkar borok korupsi dengan nilai yang fantastis.
"Sekarang lihat pejabat pada ribut. Koruptor sama koruptor ribut, Saudara. Ada jenderal polisi korupsi miliaran bahkan ratusan miliar ditangkap sama jaksa. Polisi cari lagi jaksa yang korupsi, ketemu satu jaksa emasnya 74 kilo ditangkap lagi sama polisi. Jaksa tangkap polisi, polisi tangkap jaksa," ungkap Rizieq dalam video ceramahnya sebagaimana diunggah oleh akun Pecinta Habaib, dikutip, Selasa (1/09/2026).
Meski menyoroti perseteruan tersebut, Rizieq menegaskan dukungannya terhadap upaya bersih-bersih di kedua institusi penegak hukum itu.
Ia mendorong agar oknum-oknum yang terbukti melanggar hukum, baik jenderal polisi maupun jaksa yang memperjualbelikan kasus, ditangkap tanpa pandang bulu.
Dalam kesempatan yang sama, Rizieq juga menjawab pertanyaan yang kerap dialamatkan kepadanya mengenai alasan ia sekarang absen memimpin demonstrasi turun ke jalan selama tiga hingga empat tahun terakhir, seperti saat memimpin aksi 411 dan 212 di masa lampau.
Menjawab hal itu, Rizieq menggunakan perumpamaan satire. Ia mengibaratkan perseteruan para oknum pejabat korup saat ini layaknya pertikaian antara serigala, buaya, dan setan, sehingga masyarakat sipil tidak perlu ikut campur.
"Kalau serigala sama serigala lagi ribut, jangan ikut campur. Kita ikut campur bisa kita yang mati. Saya ditanya kenapa tidak demo lagi? Saya jawab, tunggu dulu. Ini buaya lagi berkelahi, setan sama setan lagi ribut. Kalau buaya dan serigala lagi ribut, kita jangan ikut-ikutan. Diemin aje," jelasnya.
Lebih lanjut, ia berseloroh bahwa membiarkan para oknum korup saling menjatuhkan bukanlah bentuk adu domba, melainkan "adu setan". Menurutnya, masyarakat lebih baik diam dan sekadar menjadi penonton ketimbang menguras energi.
"Adu domba kan haram yeh? Apalagi adu manusia. Tapi kalau adu setan, setan yang satu mati, satunya kecapekan, baru kita serbu. Pokoknya setan berkelahi, gelar tikar, bikin kopi sama singkong rebus, duduk, minum, tonton," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat