Habib Rizieq Sedang 'Memasak': 'Jangan Bukan Sarjana Mengaku Sarjana, Enggak Pernah Masuk SMA, Ngakunya SMA'
Kredit Foto: Ist
Dewan Pembina Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyoroti polemik ijazah yang menyeret nama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Habib Rizieq mengaitkan polemik tersebut dengan persoalan kejujuran, moral, dan integritas pejabat negara. Menurut dia, latar belakang pendidikan seharusnya tidak menjadi persoalan utama sepanjang seorang pemimpin memiliki kemampuan, keberanian, dan kejujuran.
Ia bahkan menyebut seseorang tetap dapat menjadi presiden atau wakil presiden meski memiliki pendidikan rendah, asalkan tidak memalsukan atau melebih-lebihkan latar belakang pendidikannya.
"Mau jadi presiden/wapres enggak lulus SD enggak apa-apa, asal dia pintar, jujur, berani. Cuma jangan bohong, jangan bukan sarjana ngaku sarjana, enggak pernah masuk SMA tapi ngaku SMA,” kata Habib Rizieq.
Menurut dia, persoalan yang lebih serius adalah apabila masyarakat mendapatkan informasi yang tidak benar mengenai latar belakang pendidikan seorang calon atau pejabat negara.
"Sudahlah, mau jadi presiden/wapres enggak lulus SD enggak apa-apa, asal dia pinter, jujur, berani. Cuma, jangan bohong! jangan bukan sarjana ngaku sarjana, enggak pernah masuk SMA, tapi ngaku SMA. Rakyat 270 juta dibohongi," ujarnya.
Habib Rizieq kemudian membawa isu tersebut pada pencalonan Gibran sebagai wakil presiden. Ia menyinggung ketentuan mengenai batas usia calon wakil presiden serta gugatan terhadap aturan tersebut di Mahkamah Konstitusi (MK).
"Presiden lihat peraturan enggak boleh, kirim orang gugat itu UU, di Mahkamah Konstitusi sudah ditunggu sama iparnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada putusan MK yang mengubah ketentuan batas usia calon presiden dan wakil presiden menjelang Pilpres 2024.
Selain isu ijazah, Habib Rizieq juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai kebohongan pejabat pemerintah di hadapan Presiden.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat