Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Brent Tembus US$95

        AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Brent Tembus US$95 Kredit Foto: SKK Migas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak dunia kembali menguat hampir 1% pada perdagangan awal Rabu (2/9/2026), melanjutkan lonjakan pada sesi sebelumnya. Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan, sehingga harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah dalam waktu dekat semakin menipis.

        Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent naik 87 sen atau 0,92% menjadi US$95,52 per barel pada pukul 00.08 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 80 sen atau 0,89% menjadi US$91,02 per barel.

        Kedua kontrak tersebut sebelumnya melonjak lebih dari US$4 pada perdagangan Selasa. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar bagi Brent sejak 24 Juli dan bagi WTI sejak 23 Juli.

        AS menyatakan telah melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa malam. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dan menjadi eskalasi paling serius dalam konflik kedua negara dalam beberapa pekan terakhir.

        Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan tersebut dilakukan setelah adanya upaya serangan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz serta personel militer AS yang ditempatkan di kawasan tersebut.

        IRGC menyatakan serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur perairan penting yang sebelum konflik berlangsung menjadi jalur sekitar seperlima konsumsi minyak global. Iran disebut telah secara efektif menutup jalur tersebut bagi pelayaran komersial.

        IRGC juga mengatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Yordania dengan rudal balistik. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan serangan drone berskala besar terhadap pangkalan AS di Bahrain sebagai respons atas serangan AS.

        Militer Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 10 dari 13 rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya. Dua pejabat AS menyebut belum ada laporan mengenai korban dari pihak AS akibat serangan tersebut. Di sisi lain, Kuwait menyatakan militernya merespons aktivitas drone yang dianggap mengancam.

        Baca Juga: Harga Minyak Melonjak US$91 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan

        Baca Juga: Iran Kecam Dukungan Uni Eropa terhadap Tekanan Ekonomi AS

        Pertukaran serangan terbaru ini terjadi setelah peningkatan kembali permusuhan pada akhir pekan, yang menjadi eskalasi pertama sejak Juli. Situasi semakin memperburuk gangguan pasokan minyak setelah dua kapal tanker yang berangkat dari Selat Hormuz diserang pada Senin.

        Gangguan tersebut membuat para pelaku perdagangan minyak mencari alternatif pengiriman minyak mentah guna menjaga pasokan.

        Dari AS, persediaan minyak mentah tercatat turun 2,6 juta barel dalam sepekan hingga 28 Agustus. Sementara itu, stok produk sulingan yang mencakup diesel dan minyak pemanas turun 265.000 barel, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: