Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Wamen ESDM Wanti-wanti Anggaran Subsidi Energi Bisa Jebol hingga Rp300 Triliun

        Wamen ESDM Wanti-wanti Anggaran Subsidi Energi Bisa Jebol hingga Rp300 Triliun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengingatkan gejolak geopolitik dapat menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp300 triliun.

        Tambahan beban itu muncul jika kenaikan harga energi global tidak diantisipasi dengan ketersediaan pasokan energi dalam negeri, termasuk energi baru terbarukan (EBT).

        “Kementerian ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi dari Rp400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” kata Yuliot dalam Indo EBTKE ConEx and Exhibition 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

        Dengan perhitungan tersebut, kebutuhan subsidi dan kompensasi energi yang saat ini berada di kisaran Rp400 triliun dapat meningkat mendekati Rp700 triliun.

        Yuliot mengatakan kenaikan harga energi akan berpengaruh terhadap pembiayaan BBM, listrik, dan liquefied petroleum gas (LPG). Beban tambahan itu, kata dia, juga berisiko menekan pembiayaan defisit APBN 2026.

        “Kalau ini ada peningkatan sekitar Rp300 triliun itu dampaknya juga ada defisit pembiayaan yang dibiayai dari APBN, khususnya pada 2026 ini,” ujarnya.

        Menurut Yuliot, ketidakpastian geopolitik masih menjadi risiko bagi pasokan energi global. Ia menyinggung konflik Amerika Serikat dan Iran, serta perang Rusia-Ukraina, yang dinilai dapat memicu gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya energi.

        Peringatan tersebut muncul saat pemerintah juga menyiapkan anggaran subsidi energi lebih besar untuk tahun depan. Dalam RAPBN 2027, subsidi energi diusulkan sebesar Rp272,94 triliun.

        Angka itu naik 20,1% dibandingkan perkiraan realisasi subsidi energi 2026 yang sebesar Rp227,25 triliun. Adapun subsidi BBM jenis tertentu, termasuk Pertalite dan Solar, diusulkan sebesar Rp28,7 triliun pada 2027, naik dari proyeksi realisasi tahun ini sebesar Rp26,4 triliun.

        Namun, angka subsidi energi dalam RAPBN 2027 berbeda dengan skenario subsidi dan kompensasi energi yang disampaikan Yuliot. Anggaran subsidi energi merupakan pos dalam RAPBN, sementara kompensasi merupakan pembayaran pemerintah kepada badan usaha atas penugasan penyediaan energi dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

        Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.772, Subsidi Energi Jadi Ancaman Baru bagi Fiskal

        Baca Juga: Subsidi Energi RAPBN 2027 Naik Jadi Rp272,9 T, Pemerintah Masih Kaji Besaran Final

        Data yang dihimpun Warta Ekonomi menunjukkan realisasi subsidi dan kompensasi energi hingga semester I-2026 mencapai sekitar Rp233 triliun. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan totalnya dapat mencapai Rp526 triliun pada akhir tahun. Proyeksi itu bukan angka resmi pemerintah.

        Yuliot mengatakan pemerintah terus mendorong pemanfaatan EBT untuk memperkuat pasokan energi dalam negeri. Salah satunya melalui program mandatori biodiesel B50 yang telah berjalan tahun ini. Pemerintah juga menyiapkan penerapan B60 pada 2027.

        Dalam kesempatan yang sama, Yuliot menyebut pemerintah tengah berupaya meningkatkan cadangan operasional energi nasional dari rata-rata 21 hari menjadi minimal 30 hari.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: