Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Politik Kantor: Mengapa Kerja Keras Saja Tidak Selalu Cukup

        Politik Kantor: Mengapa Kerja Keras Saja Tidak Selalu Cukup Kredit Foto: Unsplash/Annie Spratt
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketika Ross Johnson menjadi orang nomor dua di Nabisco pada awal 1980-an, ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan posisi tertinggi. Johnson sebelumnya memimpin Standard Brands, perusahaan makanan yang kemudian bergabung dengan Nabisco.

        Namun, ketika ia ingin menjadi orang pertama, Robert Schaeberle masih duduk kokoh sebagai CEO Nabisco. Schaeberle bukan satu-satunya orang yang harus diperhitungkan. Ada Dick Owens, CFO sekaligus Executive Vice President yang berpengaruh dan duduk di dewan direksi.

        Jadi, jika ingin menjadi orang nomor satu, Johnson memiliki dua masalah: orang yang masih menduduki kursi yang diinginkannya dan orang yang berpeluang mendapatkannya.

        Anehnya, Johnson tidak menyingkirkan Owens. Ia justru memberikan apa pun yang diminta rivalnya.

        Ketika Owens meminta tambahan staf, analis, atau sumber daya, Johnson menyetujuinya. Dalam "pelukan hangat" Johnson, organisasi keuangan Owens tumbuh semakin besar dan tersentralisasi.

        Owens mungkin merasa sedang memperkuat posisinya. Ia tidak menyadari bahwa setiap tambahan kekuasaan membuat "kerajaan" keuangannya semakin mudah dipersoalkan.

        Ia mengira sedang diberi kekuasaan. Padahal, ia sedang diberi cukup ruang untuk membangun alasan bagi kejatuhannya sendiri.

        Ketika waktunya tiba, Johnson menemui Schaeberle. Ia menunjukkan bahwa organisasi keuangan Owens sudah terlalu besar dan tersentralisasi. Sesuatu yang sebelumnya tampak sebagai kekuatan kini dapat dibaca sebagai ancaman.

        Owens akhirnya tersingkir.

        Satu rival tumbang. Kini tinggal Schaeberle.

        Tetapi sekali lagi, Johnson tidak menyerang. Kali ini senjatanya lebih sulit dicurigai: penghormatan.

        Nabisco mendanai kursi akademik di bidang akuntansi di Pace University atas nama Robert M. Schaeberle. Johnson juga mendorong agar pusat riset baru perusahaan menggunakan nama sang CEO.

        Sementara Schaeberle semakin dimuliakan, peta kekuasaan di bawahnya perlahan berubah. Orang-orang Johnson semakin menguasai posisi-posisi penting.

        Pada 1984, Schaeberle menyerahkan gelar CEO kepada Johnson.

        Ross Johnson menjadi orang nomor satu.

        Begitulah politik kantor kadang-kadang bekerja.

        Tidak selalu dengan pisau dari belakang. Kadang dengan pelukan dari depan.

        Ketika Kita Memilih Tidak Bermain

        Kita sering membayangkan politik kantor sebagai wilayah para penjilat, penyebar gosip, dan pencuri kredit. Karena jijik terhadap perilaku itu, banyak profesional memilih prinsip yang terdengar terhormat: "Saya tidak mau ikut politik. Saya cukup bekerja dengan baik."

        Masalahnya, ketika kita memutuskan untuk tidak bermain, permainan tidak ikut berhenti.

        Promosi tetap diputuskan. Anggaran tetap dibagikan. Proyek strategis tetap diberikan. Orang-orang tertentu tetap masuk ke ruangan tempat keputusan dibuat, sementara yang lain baru mengetahui hasilnya setelah semuanya selesai.

        Jeffrey Pfeffer, profesor perilaku organisasi di Stanford, menunjukkan dalam Power: Why Some People Have It—and Others Don’t bahwa kinerja dan kompetensi saja tidak selalu cukup untuk memperoleh pengaruh. Relasi, reputasi, kemampuan membaca kepentingan, dan kontribusi yang terlihat turut menentukan.

        Sebab organisasi bukan hanya kumpulan pekerjaan. Organisasi adalah kumpulan manusia—dengan ambisi, ego, ketakutan, kepentingan, pertemanan, dan loyalitas.

        Riset Gerald Ferris dan koleganya menyebut kemampuan membaca arena ini sebagai political skill: kemampuan membaca situasi sosial, memengaruhi orang, membangun jaringan, serta tampil tulus dan dapat dipercaya.

        Jadi, pandai berpolitik tidak selalu berarti pandai menjilat.

        Hasil Kerja Tidak Punya Mulut

        Kita mengenal orang seperti itu di kantor. Ia tidak selalu paling pintar, tetapi tahu kapan harus bicara, siapa yang perlu diyakinkan sebelum rapat, dan siapa yang akan membela idenya ketika ia tidak berada di ruangan tersebut.

        Sementara sebagian dari kita masih percaya pada kalimat yang terdengar mulia:

        "Biar hasil kerja yang bicara."

        Masalahnya, hasil kerja tidak punya mulut.

        Jika tidak ada yang mengetahui kontribusi kita, memahami gagasan kita, atau bersedia memperjuangkannya ketika keputusan dibuat, pekerjaan hebat pun bisa berakhir sebagai satu baris dalam laporan yang tidak pernah dibaca.

        Di sinilah paradoksnya. Orang baik sering menjauhi kekuasaan karena takut menjadi seperti orang yang menyalahgunakannya.

        Akibatnya, kekuasaan justru lebih mudah dikuasai oleh mereka yang tidak memiliki kegelisahan moral yang sama.

        Pelajaran dari Ross Johnson bukan agar kita menjadi seperti dirinya. Justru sebaliknya: jika tidak memahami bagaimana kekuasaan bekerja, kita akan lebih sulit menyadari ketika kekuasaan sedang bekerja terhadap kita.

        Karena itu, solusinya bukan menjadi manipulator. Solusinya adalah berhenti menyamakan integritas dengan kepolosan.

        Memahami Politik Tanpa Kehilangan Integritas

        Kerjakan pekerjaan dengan baik, tetapi jangan berharap pekerjaan itu akan memperkenalkan dirinya sendiri.

        Bangun hubungan sebelum membutuhkannya. Kenali siapa yang berpengaruh, bukan hanya siapa yang memiliki jabatan. Pahami kepentingan orang sebelum menawarkan gagasan. Berikan kredit dengan murah hati, tetapi jangan membuat kontribusi Anda sendiri tidak terlihat.

        Dan kisah Dick Owens mengajarkan pelajaran yang lebih mengganggu: jangan hanya waspada terhadap orang yang memusuhi Anda.

        Kadang-kadang, perhatikan juga orang yang selalu mengabulkan semua yang Anda inginkan.

        Sebab ancaman di kantor tidak selalu datang dengan wajah marah. Ia bisa tersenyum, memuji pekerjaan Anda, menambah staf, menyetujui anggaran, bahkan membuat Anda merasa semakin berkuasa.

        Sampai suatu hari Anda menyadari bahwa semua yang diberikan kepada Anda ternyata sedang digunakan untuk membangun cerita tentang diri Anda.

        Maka, ketika kolega mendapatkan promosi, proyek besar, atau kursi di ruangan tempat keputusan dibuat, jangan terlalu cepat berkata, "Dia cuma pintar politik."

        Tanyakan:

        "Apa yang dia pahami tentang manusia dan kekuasaan yang selama ini saya abaikan?"

        Anda boleh tidak menjilat. Anda boleh menolak memanipulasi. Anda boleh menjaga integritas.

        Tetapi jangan menjadi naif.

        Sebab di kantor, orang yang tersenyum belum tentu kawan. Orang yang berbeda pendapat belum tentu lawan. Dan sesuatu yang terlihat seperti hadiah belum tentu diberikan agar kita semakin kuat.

        Suatu hari, mungkin kita tidak kalah karena kurang pintar, kurang bekerja keras, atau kurang kompeten.

        Kita kalah karena mengira kompetensi adalah satu-satunya permainan yang sedang dimainkan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: