Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mengapa Kebiasaan Kecil yang Salah Lebih Berbahaya daripada Satu Keputusan Buruk

Oleh: Edhy Aruman

Mengapa Kebiasaan Kecil yang Salah Lebih Berbahaya daripada Satu Keputusan Buruk Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jon Gordon—seorang penulis buku laris—tiba pada gagasan besar tentang kebiasaan justru ketika hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Pada usia sekitar 31 tahun, ia kehilangan pekerjaan, cemas soal keuangan, dan mulai melihat hampir semua hal dari sisi negatif.

Ketakutan itu tidak berhenti di kepalanya; ia ikut pulang ke rumah. Istrinya sampai mengingatkan bahwa jika Gordon terus larut dalam kecemasan dan pikiran buruk, yang terancam bukan cuma kariernya. Hubungan mereka juga bisa ikut rusak.

Kalimat itu seperti alarm.

Masalahnya bukan hanya pekerjaan yang hilang, tetapi juga dirinya yang perlahan-lahan ikut hilang. Gordon sadar, jika dibiarkan, rasa takut bisa berubah dari suasana hati menjadi cara hidup.

Ia lalu melakukan sesuatu yang sangat sederhana: berjalan kaki.

Sambil berjalan, Gordon memikirkan hal-hal yang masih bisa ia syukuri. Ia kemudian menyebut kebiasaan itu sebagai Thank-You Walk.

Tidak ada pekerjaan baru yang menunggu di ujung jalan. Tagihan juga tidak mendadak berkata, “Tenang, bulan ini kami mengerti keadaan.” Masalahnya masih ada, tetapi Gordon mulai merasa masalah itu tidak lagi memenuhi seluruh ruang di kepalanya.

Di situlah paradoksnya.

Kita sering menunggu keadaan membaik supaya bisa tenang. Padahal, kadang kita perlu menenangkan diri lebih dulu agar mampu menghadapi keadaan.

Kita menunggu hidup menjadi ringan, sementara Gordon justru belajar menjadi sedikit lebih kuat ketika hidup sedang berat.

Kebiasaan Sebelum Kebiasaan

Menurut saya, inilah salah satu gagasan paling kuat dari The Power of Positive Habits. Kita sering berkata, “Nanti kalau uang sudah cukup, aku akan santai,” atau, “Nanti kalau masalah selesai, aku akan menikmati hidup.”

Masalahnya, kata “nanti” sering punya umur yang sangat panjang.

Gordon membawa gagasan itu ke ranah yang sangat praktis melalui konsep the habit before the habit.

Mau olahraga pagi? Siapkan sepatu malam sebelumnya.

Mau membaca? Taruh buku di tempat yang mudah dijangkau, bukan disimpan begitu rapi sampai lebih mirip koleksi museum.

Mau makan lebih sehat? Jangan tunggu lapar berat lalu berdiri di depan kulkas seperti sedang mengambil keputusan strategis negara.

Intinya sederhana: kebiasaan baik sering gagal bukan karena kita tidak punya niat, tetapi karena kita membuat jalannya terlalu rumit.

Kadang kita sebenarnya tidak kurang disiplin. Kita hanya terlalu banyak memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berkata, “Besok saja.”

Cari Satu Kemenangan Kecil

Ada cerita lain tentang Bart Conner, pesenam Olimpiade. Sejak kecil, ia terbiasa menyebutkan satu keberhasilan setiap hari. Gordon kemudian menerapkan kebiasaan itu pada anak-anaknya.

Suatu hari, ketika ditanya apa keberhasilannya, putrinya menjawab bahwa hari itu ia berhasil tidak memukul kakaknya.

Standarnya memang belum level Olimpiade.

Tetapi justru dari situ pesannya menjadi mudah dipahami.

Otak belajar dari apa yang kita biasakan untuk diperhatikan. Kalau setiap malam yang kita ingat hanya kesalahan, hidup lama-lama terasa seperti rapor yang seluruh nilainya merah.

Sebaliknya, kalau kita sengaja mencari satu kemajuan kecil, kita mulai sadar bahwa satu hari buruk bukan berarti seluruh hidup kita buruk.

Kadang kemenangan kecil memang terlihat sepele. Namun, ia memberikan bukti bahwa kita masih bergerak. Dan sering kali, bukti kecil itulah yang membuat kita mau mencoba lagi besok.

Jangan Terlalu Sibuk Menjalani Hidup

Gordon juga pernah hampir melewatkan perjalanan ke Lake Louise karena merasa terlalu sibuk. Dalam pikirannya, itu hanya danau dan fotonya juga ada di internet.

Untung ia akhirnya pergi, lalu mendapati tempat itu jauh lebih indah daripada yang ia bayangkan.

Cerita ini terasa sangat dekat.

Kita juga sering menunda menikmati hidup karena email belum selesai, pekerjaan belum beres, atau target belum tercapai.

Padahal, email punya kemampuan berkembang biak yang lumayan mengkhawatirkan: satu dibalas, tiga muncul.

Kita bisa sangat sibuk mengurus kehidupan sampai lupa menjalani kehidupan.

Ironisnya, kita bekerja keras supaya suatu hari bisa menikmati hidup. Tetapi ketika hidup datang dalam bentuk makan malam bersama keluarga, perjalanan kecil, atau sore yang tenang, kita malah berkata, “Nanti dulu.”

Kadang yang paling mahal bukan sesuatu yang kita beli.

Kadang yang paling mahal justru sesuatu yang kita lewatkan.

Bicara kepada Diri Sendiri

Gordon juga berbicara tentang suara di kepala. Saat lelah, gagal, atau takut, suara itu biasanya tidak terlalu membantu:

“Sudahlah.”

“Kamu nggak bisa.”

“Percuma.”

“Besok saja.”

Ia mengajak kita bukan hanya mendengarkan diri sendiri, tetapi juga belajar berbicara kepada diri sendiri.

“Ya, aku takut. Tapi coba dulu.”

“Ya, aku capek. Tapi sedikit lagi.”

“Ya, aku gagal. Tapi belum selesai.”

Bagi saya, ini bukan soal memaksa diri menjadi positif setiap saat. Hidup jelas tidak sesederhana poster motivasi. Ada hari ketika kita sedih, kecewa, marah, atau merasa semua usaha kita sia-sia.

Tetapi kita masih punya pilihan.

Apakah satu hari buruk cukup menjadi satu hari buruk, atau kita membiarkannya tinggal lebih lama hingga perlahan berubah menjadi cara kita menjalani hidup?

Tidak Semua Perang Harus Dimenangkan

Gordon bahkan membawa prinsip tersebut ke dalam konflik bisnis. Ia pernah merasa dirugikan, tetapi memilih tidak menghabiskan hidup untuk terus bertarung.

Dari sana muncul paradoks lain yang terasa sederhana, tetapi tajam: kita bisa menang dalam pertengkaran, tetapi kalah waktu.

Kita bisa membuktikan bahwa kita benar, tetapi kehilangan tenaga untuk sesuatu yang jauh lebih penting.

Tidak semua perang yang bisa dimenangkan harus diteruskan.

Kadang meninggalkan pertempuran bukan berarti kalah. Itu berarti kita akhirnya tahu apa yang benar-benar layak diperjuangkan dalam hidup.

Kebiasaan Membentuk Kita

Pada akhirnya, solusi Gordon tidak terlalu dramatis.

Jalan kaki. Bersyukur. Menyiapkan kebiasaan sebelum kebiasaan. Mencatat satu kemajuan. Berbicara sedikit lebih baik kepada diri sendiri. Melepaskan pertarungan yang hanya menguras energi.

Sesekali, tutup laptop dan lihat hidup yang sedang berjalan di depan mata.

Sebab hidup tidak selalu berubah lewat satu keputusan besar. Ia sering bergeser lewat tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

Tidak ada musik latar. Tidak ada perubahan besar dalam semalam.

Hanya satu langkah kecil, lalu satu langkah lagi, sampai suatu hari kita sadar bahwa arah hidup sudah berubah.

Mungkin memang begitu kita dibentuk. Bukan karena sekali berlari sangat jauh, tetapi karena setiap hari kita terus berjalan ke arah tertentu.

Dan justru di situlah buku Gordon terasa agak menakutkan.

Kita sering takut pada satu keputusan besar yang keliru. Padahal, mungkin yang lebih berbahaya adalah kebiasaan kecil yang keliru karena kita bisa mengulanginya selama bertahun-tahun tanpa pernah merasa sedang membuat keputusan.

Sampai suatu hari, kebiasaan itu tidak lagi terasa seperti kebiasaan.

Ia sudah menjadi kita.

Lalu pertanyaannya tinggal satu:

Kalau caraku menjalani hari ini terus kuulang selama lima tahun, aku sedang berjalan menuju hidup yang kuinginkan—atau perlahan menjadi orang yang nanti tidak kukenal?

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: