Kredit Foto: Instagram/khofifah indar parawansa
Kasus dugaan keracunan massal yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) erus menjadi sorotan.
Kali ini, waktu pengiriman hingga makanan disantap menjadi perhatian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Khofifah menemukan adanya perbedaan waktu distribusi dan penyajian makanan antara lokasi yang aman dengan lokasi yang mengalami masalah kesehatan.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu fokus dalam penyelidikan kejadian luar biasa (KLB) keracunan yang berkaitan dengan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.
"Diduga ada keterlambatan dalam menyajikan makanan kepada para santri," kata Khofifah di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: BPOM Dapat Tambahan Anggaran Rp509 Miliar, Ternyata Dialokasikan Buat MBG?
Berdasarkan penyelidikan dan evaluasi terhadap penerima makanan dari SPPG yang sama, tercatat ada 18 lembaga penerima. Menariknya, 17 lembaga dilaporkan berjalan aman, sedangkan satu lokasi mengalami masalah kesehatan.
Perbedaan yang ditemukan berkaitan dengan waktu pengiriman dan penyajian makanan. Di lembaga yang aman, makanan selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB, kemudian dikirim sekitar pukul 07.00 WIB dan baru disantap sekitar pukul 10.00 WIB. Total jeda dari makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi sekitar lima jam atau kurang.
Situasinya berbeda di lokasi yang mengalami kasus. Makanan baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB dan kemudian disantap sekitar pukul 12.30-13.00 WIB. Kondisi ini membuat jeda sejak makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi menjadi salah satu hal yang disorot dalam evaluasi.
"Yang perlu kita evaluasi adalah time delivery dan time serving-nya. Jangan sampai makanan terlalu lama berada pada suhu ruang sebelum dikonsumsi," ujarnya.
Baca Juga: Heboh Ada Belatung di Menu MBG yang Bikin 512 Santri Keracunan, BGN Buka Suara
Sorotan terhadap waktu tersebut semakin mengemuka karena menu, bahan, hingga proses memasak disebut tidak berbeda dengan makanan yang didistribusikan ke lembaga penerima lainnya. Dengan kondisi itu, keterlambatan pengiriman dan penyajian menjadi salah satu fokus utama yang sedang dievaluasi.
Makanan yang terlalu lama berada dalam kondisi penyimpanan yang tidak sesuai standar berpotensi memicu pertumbuhan mikroorganisme atau terbentuknya toksin yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Meski demikian, hal tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti kejadian yang dialami para santri karena kasus ini masih melalui pemeriksaan dan pengujian oleh pihak berwenang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: