- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Ambruk Hampir 24%, Mandiri Sekuritas Masih Lihat Peluang Balik ke 7.500
Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat tekanan sepanjang 2026 dengan penurunan sekitar 23,7% secara year-to-date (YTD). Kinerja tersebut membuat pasar saham Indonesia tertinggal dari sejumlah bursa utama Asia yang masih membukukan pertumbuhan positif.
Head of Equity Research & Strategi Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat mengatakan tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi kondisi makroekonomi global, pelemahan rupiah, serta respons kebijakan domestik.
Menurut Kresna, pelemahan IHSG berkorelasi dengan tekanan terhadap rupiah dan kenaikan biaya modal di dalam negeri. Berdasarkan data yang dipaparkannya, rupiah melemah sekitar 5,8% secara YTD.
“Pelemahan tersebut lebih besar dibandingkan sejumlah mata uang utama dan regional yang justru mampu menguat atau mencatat tekanan lebih terbatas,” kata Kresna dalam acara Macro Economic Outlook secara daring, Kamis (3/9/2026).
Kinerja tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah bursa utama. Indeks SET Thailand tercatat naik sekitar 25%, Singapore STI menguat 23,6%, S&P 500 Amerika Serikat tumbuh sekitar 12%, sedangkan KLCI Malaysia naik 1,7%.
Selain tekanan terhadap rupiah, pasar saham Indonesia menghadapi sejumlah faktor eksternal dan domestik. Beberapa di antaranya adalah dinamika kebijakan indeks MSCI Indonesia, ketegangan geopolitik global, perubahan prospek peringkat kredit Indonesia, serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi likuiditas, biaya pendanaan, serta sentimen terhadap aset keuangan Indonesia.
Meski demikian, Mandiri Sekuritas menilai arah IHSG hingga akhir tahun masih akan sangat dipengaruhi perkembangan makroekonomi dan kebijakan pemerintah maupun bank sentral.
“Meski demikian, perkembangan sejumlah faktor makroekonomi dan kebijakan ke depan akan menjadi perhatian investor dalam menentukan arah pergerakan IHSG hingga akhir 2026,” ujarnya.
Baca Juga: IHSG Ditutup di Zona Hijau, Naik 1,09% ke Level 6.667,89
Baca Juga: JP Morgan Pangkas Target IHSG Jadi 7.000, Ini Tantangannya
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 0,56% ke Level 6.632,83, Didorong oleh 315 Saham
Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG dapat mencapai sekitar 6.800 pada akhir 2026. Dalam skenario bullish atau bull case, IHSG bahkan berpeluang mencapai 7.500 apabila equity risk premium membaik dan risk-free rate bergerak lebih rendah.
“Proyeksi kami secara bull case jika memang adanya equity risk premium yang lebih baik, misalkan direfleksikan dengan risk-free rate yang lebih rendah lagi, itu harusnya bisa ke 7.500,” kata Kresna.
Proyeksi tersebut menunjukkan ruang pemulihan pasar saham masih terbuka apabila tekanan terhadap premi risiko dan biaya dana dapat mereda. Namun, realisasinya tetap bergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi, nilai tukar, kebijakan moneter, serta sentimen investor terhadap aset Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: