Kredit Foto: Ist
Pada usia 25 tahun, Thomas Erikson memasuki kantor seorang pengusaha bernama Sture untuk sebuah pertemuan kerja. Ia tidak tahu bahwa pagi itu akan memberinya pertanyaan yang kelak mengubah cara pandangnya terhadap manusia: mengapa orang yang berbeda dari kita begitu mudah terlihat bodoh?
Sture berusia sekitar 60 tahun. Ia pengusaha sukses, membangun bisnisnya sendiri, menguasai bidang teknisnya, dan cukup berpengalaman untuk mengetahui bagaimana sebuah perusahaan seharusnya berjalan. Namun, ketika pembicaraan beralih kepada karyawannya, wajahnya memerah.
“Saya dikelilingi oleh orang-orang idiot,” katanya.
Erikson sempat tertawa karena mengira Sture sedang bercanda. Ternyata tidak. Departemen A dianggap penuh idiot, Departemen B tidak memahami pekerjaan mereka, sementara orang-orang di Departemen C begitu aneh sehingga Sture heran bagaimana mereka bisa menemukan jalan menuju kantor setiap pagi.
Masalahnya bukan hanya apa yang Sture pikirkan, tetapi bagaimana ia memperlakukan mereka. Ia terbiasa meluapkan kemarahan ketika seseorang menyampaikan kabar buruk. Karyawan pun belajar sebuah hukum tak tertulis: jika kejujuran membuatmu dihukum, diam adalah bentuk perlindungan diri.
Pelan-pelan, orang menghindarinya. Dalam kisah yang diceritakan Erikson di Surrounded by Idiots, bahkan ada lampu peringatan di resepsionis: merah ketika Sture berada di kantor dan hijau ketika ia pergi. Karyawan dan klien melihat lampu itu sebelum masuk; sebagian memilih kembali lain waktu ketika warnanya merah.
Di sinilah tragedinya.
Sture ingin mengetahui apa yang terjadi di perusahaannya, tetapi perilakunya sendiri membuat orang takut mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin keras ia menuntut keterbukaan, semakin sedikit kebenaran yang sampai kepadanya.
Setelah cukup lama mendengarkan keluhan itu, Erikson akhirnya bertanya, “Kalau begitu, siapa yang merekrut semua idiot ini?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata berbahaya karena Sture sendirilah yang memilih sebagian besar orang yang kini ia anggap tidak kompeten.
Ruangan mendadak sunyi. Jika semua orang yang direkrut Sture adalah idiot, ada satu pertanyaan lanjutan yang jauh lebih menyakitkan: apa artinya itu bagi orang yang merekrut mereka?
Sture memahami implikasinya dan mengusir Erikson dari kantor.
Di dalam mobil, dengan perut yang masih terasa mulas, Erikson mulai melihat kemungkinan lain. Bagaimana jika Sture sebenarnya tidak dikelilingi oleh orang-orang bodoh? Bagaimana jika ia hanya dikelilingi oleh orang-orang yang tidak seperti dirinya?
Ketika Diri Sendiri Menjadi Penggaris
Paradoks itu tidak hanya hidup di kantor Sture.
Kita semua memiliki kecenderungan menjadikan cara berpikir sendiri sebagai titik nol: yang cepat menganggap yang hati-hati lamban, yang analitis menganggap yang spontan ceroboh, yang tegas menganggap yang diplomatis lemah.
Kita merasa sedang mengukur orang lain secara objektif, padahal penggarisnya sering kali adalah diri kita sendiri.
Itulah kesalahan Sture. Orang yang banyak bicara dianggap pembual, orang teliti dianggap birokrat, orang lugas dianggap kasar, dan orang tenang dianggap membosankan. Dirinya sendiri menjadi kamus untuk menerjemahkan seluruh manusia.
Pengalaman itu turut mendorong Erikson untuk mendalami perilaku manusia. Dalam perjalanan berikutnya, ia menggunakan kerangka DISC dan mempopulerkan empat kecenderungan perilaku melalui warna merah, kuning, hijau, dan biru: tegas dan berorientasi pada hasil; ekspresif dan persuasif; tenang dan stabil; serta analitis dan teliti.
Namun, pelajaran terpentingnya bukan tentang warna.
Manusia jauh lebih kompleks daripada empat kategori. Nilai kerangka semacam itu justru terletak pada sebuah kesadaran sederhana: perilaku yang terasa salah bagi kita belum tentu salah. Ia mungkin hanya asing.
Ketegasan bisa terbaca sebagai kekasaran. Ketelitian dapat dianggap sebagai kelambanan, ketenangan disalahartikan sebagai kepasifan, sementara antusiasme terasa seperti kebisingan.
Konflik kemudian muncul tidak selalu karena niat buruk, tetapi karena dua manusia sedang berbicara menggunakan kamus yang berbeda.
Komunikasi Membutuhkan Kerendahan Hati
Karena itu, komunikasi yang matang bukan sekadar kemampuan mengatakan apa yang ingin kita katakan. Ia adalah kemampuan menyampaikan sesuatu dengan cara yang dapat diterima oleh manusia yang tidak berpikir seperti kita.
Dan itu menuntut sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar teknik komunikasi: kerendahan hati untuk menerima bahwa cara kita bukan satu-satunya cara yang masuk akal.
Bertahun-tahun kemudian, pertemuan buruk dengan Sture tetap menjadi bagian penting dari cerita yang membuka Surrounded by Idiots.
Ironisnya indah: seorang pria yang merasa dirinya dikelilingi oleh idiot justru membantu memantik perjalanan untuk memahami mengapa manusia begitu mudah menganggap orang yang berbeda sebagai idiot.
Mudah bagi kita menertawakan Sture. Kita membayangkan betapa buruknya memiliki bos yang membuat satu kantor bernapas lega setiap kali ia pergi.
Tetapi justru di sinilah cerita itu mulai berbalik menghadap kita.
Sebab Sture mungkin tidak pernah bangun pagi sambil berpikir, “Hari ini saya akan menjadi pemimpin yang membuat semua orang takut.” Dari tempat ia berdiri, ia mungkin sungguh merasa bahwa dirinya satu-satunya orang waras di tengah orang-orang yang bermasalah.
Dan bukankah kita pernah merasakan hal serupa?
Ketika hampir semua orang terasa lamban, mungkin mereka memang lamban. Ketika semua orang terasa sulit diajak bekerja sama, mungkin mereka memang sulit diajak bekerja sama.
Tetapi ketika terlalu banyak orang tampak bermasalah di mata kita, ada satu kemungkinan yang jauh lebih tidak nyaman untuk diperiksa:
Mungkin masalahnya bukan selalu tentang siapa yang berdiri di hadapan kita.
Mungkin masalahnya adalah kamus yang kita gunakan untuk membaca mereka.
Dan sebelum kembali menyebut dunia penuh dengan orang-orang yang sulit, mungkin kita perlu melihat sekali lagi ke meja resepsionis.
Siapa tahu lampu merah itu sedang menyala.
Bukan karena Sture datang.
Tetapi karena kita.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: