Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) optimistis realisasi produksi batu bara sepanjang 2026 dapat mendekati 50 juta ton. Perseroan menjalankan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB di kisaran 53 juta ton tahun ini.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Bukit Asam Tbk, Una Lindasari, mengatakan produksi dan penjualan batu bara PTBA pada Semester I-2026 masih sedikit di bawah target periode berjalan.
“RKAB kami masih di kisaran 53 juta ton untuk tahun ini. Produksi dan penjualan kami sedikit di bawah target untuk periode pertama atau Semester I-2026. Tapi kami cukup optimistis bahwa kami bisa mencapai target RKAB sampai dengan akhir tahun itu mendekati angka 50 juta,” ujar Una dalam Public Expose Live PTBA yang digelar secara daring, Senin (7/9/2026).
Pada Semester I-2026, PTBA mencatat produksi batu bara sebesar 19,45 juta ton. Sementara penjualan batu bara mencapai 21,1 juta ton.
Produksi Semester I-2026 tersebut setara sekitar 36,7% dari RKAB PTBA yang berada di kisaran 53 juta ton. Perseroan menyatakan realisasi produksi dan penjualan pada enam bulan pertama tahun ini masih sedikit di bawah target periode berjalan.
Ekspor Tembus 10,33 Juta Ton
Dari total penjualan 21,1 juta ton, PTBA mencatat penjualan ekspor 10,33 juta ton pada Semester I-2026. Volume ekspor tersebut naik 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Negara tujuan ekspor terbesar PTBA meliputi Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Sementara penjualan domestik mencapai 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.
Kinerja penjualan tersebut mendukung pendapatan PTBA yang mencapai Rp22,03 triliun pada Semester I-2026, naik 7,73% secara tahunan. Laba bersih perseroan tercatat Rp2,65 triliun atau tumbuh 218% dibandingkan Semester I-2025.
Una mengatakan kinerja perseroan didukung pemulihan kegiatan operasional pada kuartal II-2026, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara.
“Kinerja tersebut didukung oleh pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara,” lanjut Una.
Pada Semester I-2026, Newcastle Index meningkat 25% secara tahunan, sedangkan ICI 3 naik 15% secara tahunan. Penguatan indeks batu bara itu mendorong harga jual rata-rata atau average selling price PTBA naik 10% secara tahunan.
Harga dan Permintaan Stabil
Untuk Semester II-2026, PTBA memperkirakan harga dan permintaan batu bara bergerak stabil. Una mengatakan harga batu bara diperkirakan berada dalam kisaran yang sama seperti kuartal II-2026.
“Dari sisi harga akan cenderung stabil, tetap di dalam kisaran seperti harga di kuartal II tahun ini,” ujar Una.
Ia mengatakan rata-rata penjualan batu bara PTBA selama dua bulan terakhir tetap berada di level sekitar 5 juta ton per bulan.
“Sementara untuk permintaan juga tetap stabil karena sampai dengan saat ini rata-rata penjualan kami masih tetap di level sekitar 5 juta per bulannya, terutama di dua bulan terakhir,” kata Una.
Proyek Logistik dan Hilirisasi
PTBA melanjutkan pengembangan infrastruktur pertambangan dan logistik untuk memperkuat rantai pasok batu bara. Progres proyek Tanjung Enim–Kramasan telah mencapai sekitar 93%.
Perseroan juga memperoleh komitmen pendanaan melalui term sheet dengan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara untuk fasilitas pinjaman berjangka senior senilai Rp3,56 triliun. Pendanaan tersebut disiapkan untuk mempercepat proyek Tanjung Enim–Kramasan, termasuk pembangunan coal handling facility dan train loading station TLS 67.
“Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 67 agar sistem logistik batu bara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal,” ujar Una.
Selain memperkuat bisnis inti, PTBA menyiapkan proyek hilirisasi batu bara berupa coal to dimethyl ether atau DME dan coal to synthetic natural gas atau SNG.
Baca Juga: Di Balik Lonjakan Kinerja PTBA Semester I 2026, Kewajiban Reklamasi Tembus Rp2,3 T
Baca Juga: Proyek Haus Air, PTBA Bakal Sedot Sungai Enim untuk DME
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PT Bukit Asam Tbk Turino Yulianto mengatakan kedua proyek tersebut masuk dalam Proyek Strategis Nasional atau PSN. PTBA bersama mitra strategis tengah menjalankan joint feasibility study dari hulu hingga hilir dalam orkestrasi Danantara.
“Kedua proyek ini masuk dalam PSN dan kita sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint feasibility study dari hulu ke hilir,” ujar Turino.
Ia mengatakan proyek coal to DME melalui metanol ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027. Patra Niaga disiapkan sebagai offtaker DME, sedangkan SNG diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan gas industri.
“Kita ditargetkan sudah mulai konstruksi tahun depan untuk coal to DME melalui metanol,” tutup Turino.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: