Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat biaya fuel and lubricants sebesar Rp19,19 miliar pada Semester I-2026, naik 16,1% dibandingkan Rp16,53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah kenaikan tersebut, perseroan menyatakan penerapan mandatori biodiesel B50 berdampak relatif kecil terhadap biaya operasional.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PT Bukit Asam Tbk, Turino Yulianto, mengatakan PTBA siap menjalankan ketentuan penggunaan B50 yang diberlakukan pemerintah.
“Penggunaan B50 ini berdampak tidak terlalu besar jika kita hitung. Ini relatif kecil persentasenya terhadap cost kami. Jadi kami siap menjalankan apa yang menjadi mandatory pemerintah,” ujar Turino dalam Public Expose Live PTBA secara daring, Senin (7/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat manajemen PTBA ditanya mengenai dampak penerapan mandatori B50 terhadap beban operasi perseroan pada Semester II-2026.
B50 merupakan bahan bakar diesel dengan campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit dan 50% solar. Program ini dijalankan pemerintah untuk memperluas pemanfaatan bahan bakar nabati di dalam negeri. Hingga Agustus 2026, distribusi B50 telah mencapai sekitar 80% dari total stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Indonesia.
Biaya Fuel Rp19,19 Miliar
Merujuk laporan keuangan PTBA per 30 Juni 2026, biaya fuel and lubricants dicatatkan dalam pos beban penjualan dan pemasaran. Nilainya sebesar Rp19,19 miliar pada Semester I-2026, naik Rp2,66 miliar atau 16,1% secara tahunan dari Rp16,53 miliar pada Semester I-2025.
PTBA juga mencatat kewajiban akrual terkait fuel sebesar Rp222,69 miliar per 30 Juni 2026. Angka tersebut turun dibandingkan posisi Rp257,87 miliar pada 31 Desember 2025.
Dengan demikian, kewajiban akrual fuel PTBA berkurang Rp35,18 miliar atau sekitar 13,6% dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Turino tidak memerinci nilai tambahan beban yang secara khusus timbul akibat penggunaan B50. Namun, ia mengatakan dampaknya relatif kecil bila dibandingkan dengan keseluruhan biaya perseroan.
Kinerja Semester I Menguat
PTBA membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada Semester I-2026, naik dari Rp20,45 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba periode berjalan mencapai Rp2,64 triliun, meningkat 214,7% dibandingkan Rp839,9 miliar pada Semester I-2025.
Beban pokok pendapatan PTBA turun menjadi Rp17,78 triliun dari Rp18,20 triliun. Seiring pertumbuhan pendapatan dan penurunan beban pokok, laba bruto perseroan naik menjadi Rp4,24 triliun pada Semester I-2026.
Secara operasional, PTBA mencatat produksi batu bara 19,45 juta ton dan penjualan 21,1 juta ton pada Semester I-2026. Penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton, naik 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Bukit Asam Tbk Una Lindasari mengatakan kinerja perseroan pada Semester I-2026 ditopang pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara.
Baca Juga: PTBA Kejar Produksi 50 Juta Ton Batu Bara di 2026
Baca Juga: Di Balik Lonjakan Kinerja PTBA Semester I 2026, Kewajiban Reklamasi Tembus Rp2,3 T
“Kinerja tersebut didukung oleh pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara,” kata Una dalam kesempatan yang sama.
Pada Semester I-2026, Newcastle Index naik 25% secara tahunan dan ICI 3 meningkat 15%. Pergerakan harga batu bara itu mendorong harga jual rata-rata atau average selling price PTBA naik 10% secara tahunan.
Harga Batu Bara Stabil
PTBA memperkirakan harga dan permintaan batu bara pada Semester II-2026 cenderung stabil. Una mengatakan harga diperkirakan bertahan pada rentang seperti kuartal II-2026.
“Dari sisi harga akan cenderung stabil, tetap di dalam kisaran seperti harga di kuartal II tahun ini,” lanjut Una.
Ia menyebut rata-rata penjualan batu bara PTBA selama dua bulan terakhir berada di level sekitar 5 juta ton per bulan.
“Sementara untuk permintaan juga tetap stabil karena sampai dengan saat ini rata-rata penjualan kami masih tetap di level sekitar 5 juta per bulannya, terutama di dua bulan terakhir,” tutup Una.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: